Soal Karya Yang Tidak Belum Menemukan Penikmatnya
50.000 mill sebelum usia 30
Siang itu panggilan masuk datang dari Ibu Nafi’atul Umami. Tak banyak obrolan yang kami bangun. Hanya pertanyaan tentang apakah saya kosong atau tidak dalam waktu beberapa hari kedepan.
Saya katakan kala itu dengan tanpa banyak pertimbangan, bahwa saya kosong dengan tidak memiliki tanggung jawab apapun dalam waktu dekat.
Dan jawaban tersebut memiliki konsekuensi atas kesiapan saya untuk dibergunakan tenaga dan apa-apa dari diri saya. Saya memahaminya dengan baik.
Benar apa yang saya sempat pikirkan, karena sesaat kemudian kata beliau: “Kamu ke kepulauan riau ya yud?” Bahkan saat saya masih sulit membedakan ini sebuah pertanyaan atau pernyataan, jawaban “iya” dengan penuh kesiapan dan sedikit usaha menutupi kegembiraan sudah muncul terlebih dahulu dari mulut saya.
Bagaimana tidak.
Semenjak pertama kali berazam beberapa tahun silam. Saya selalu memiliki ketertarikan yang sangat tinggi atas perjalanan-perjalanan yang kemudian saya tempuh. Azam saya kala itu sederhana. Saya ingin pergi sejauh lebih dari 50.000 mill sebelum usia saya 30 tahun. Dan kira-kira ini sudah tahun ke empat semenjak pertama kali azam itu muncul, dan Allah SWT dengan baiknya telah perkenankan untuk saya singgahi tempat-tempat hingga sejauh ini.
Takut Masa Depan
Tampan itu buat kalian saja.
Kalo kata Einstein, hidup itu kek naik sepeda. Untuk bisa tetap dalam keseimbangan, kita harus terus bergerak. Dan sayangnya Enstein lupa menambahkan dan mengingatkan, bahwa setiap putaran roda sepeda akan menambah bilangan usia.
Untuk alasan yang tidak bisa saya pahami, pertambahan usia saya berbanding terbalik dengan tingkat kenaikan paras ketampanan.
Dan untuk kesekian kalinya, saya ingin menjelaskan kepada kalian, bahwa dalam foto ini saya sudah berusaha terlihat tampan.
If you can't be handsome, be awesome.
Opini di Majalah Trobos Edisi November 2016
![]() |
| Trobos Livestock - Edisi 206 - November 2016 - Halaman 104 |
Simpul gerakan transformatif Bojonegoro
Saya tumbuh dan besar di Bojonegoro. Tapi apa yang terjadi di Bojonegoro saat ini, jauh lebih cepat dari apa yang saya ketahui.
Mengetahui bahwa di Bojonegoro telah banyak muncul gerakan transformatif dengan fokus isu masing-masing adalah sebuah hal yang menggembirakan.
Sebut saja gerakan revolusi data berbasis digital yang di inisiasi oleh Sinerganta dan Bojonegoro Institute, gerakan pungut sampah bernafaskan lingkungan dari Qohar Mahmudi, sampai gerakan literasi yang digagas beberapa pegiat media, komunitas, dan lembaga pendidikan.
Simpul-simpul ini perlu terus dirawat untuk bisa terus tumbuh. Diresonansikan untuk bisa terus membuka embrio-embrio baru.
Ada harap bagi saya untuk kelak bisa ikut berkotor, mengambil peran, untuk menjaga nafas tumbuh kota yang ikut membentuk saya sampai saat ini.
___________
Inspirasi informasi: http://blokbojonegoro.com/read/module/20161030/buku-blokbojonegoro-dan-gerakan-literasi.html
Jangan benturkan urusan akademik dan organisasi
Jangan pernah membenturkan kebaikan.
Teruntuk adik-adik saya di MAN 3 Malang.
Terimakasih kepada Ibu Wahyuni Ekowati (Ibu Yuyun) atas permintaannya untuk saya menuliskan ini semua. Semoga bermanfaat.
Hidup saya penuh dengan paksaan paska saya lulus Aliyah. Bukan dari orang lain. Tapi dari diri saya sendiri.
Apa yang saya pahami dan pelajari dari kasus BEM/LEM/LM/DEMA vs KMTETI FT UGM
Mungkin kurang lebih judulnya seperti ini:
"Apa yang saya pahami dan pelajari dari kasus ini"
Sulit untuk membendung ekskalasi informasi yang cukup deras ketika informasi tersebut sudah dilempar ke publik.
Media sosial bagi saya adalah perkara mengenai siapa yang lebih cepat membentuk frame berfikir pada publik secara umum.
Karena, siapapun yang mampu membangun frame lebih awal dia yang akan unggul dalam membangun trust lebih awal.
Framing merupakan metode penyajian realitas di mana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan di kemas sesuai kebutuhan pemberi informasi.
Karena, sebagian besar dari kita awam akan hal yang terjadi sebenarnya. Kita butuh untuk dibantu memahami.
Dalam keadaan kosong ini, kita akan cenderung menerima informasi apapun yang masuk sampai kita mendapat informasi pembanding.
Jika uraian tersebut juga dapat kita kontekstualkan pada perkara ini. Kurang adil rasanya jika hanya ada satu frame informasi yang dihadirkan pada publik saat ini. Dan ijinkan jug saya untuk menunggu frame-frame lain.
Salah jika merisaukan PPN terlalu dalam
Pertama-tama saya ingin mengucapkan permohonan maaf saya yang mendalam ketika Anda menemui alur gagasan yang agak rumit dalam tulisan saya kali ini. Sejujurya saya sudah menghabiskan waktu berhari-hari hanya sekadar untuk membuat tulisan ini terlihat lebih sederhana dan memiliki alur yang mudah untuk di ikuti. Namun, berurusan dengan tata kelola perundangan-undangan, cukup sulit untuk membuatnya menjadi sederhana tanpa terlihat ‘parsial’. Oleh karenanya, saya mengharap kemakluman Anda sekalian atas hal tersebut.
- “Pasal 1 : (1) Barang Kena Pajak tertentu yang bersifat strategis yang atas impornya dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai meliputi:
- d. ternak yang kriteria dan/atau rinciannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertanian;…”




