Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Soal Karya Yang Tidak Belum Menemukan Penikmatnya

  • 0
Dalam prespektif apapun, orang dengan karya akan jauh lebih unggul dibanding lainnya. Mereka hadir dalam manifestasi karya-karya mereka. Dalam bidang apapun, karya itu akan menjelma menjadi sebuah hal yang orang akan terima dan hargai dengan hormat tinggi walau tidak terjadi pada semua karya. 

Menjadi menarik ketika anggapan muncul bahwa orang dengan karya hadir dari lingkungan yang sama dengan lainnya. Bagi saya ini tidak terjadi begitu saja. Analogi waktu yang sama dalam sehari, dengan asupan jenis makanan yang sama, dan lain sebagainya bagi saya it doesn't makes sense. 

Ada bannyak hal yang bila ditarik dalam satu lintasan bahasan akan terlihat bahwa tidak ada yang muncul by nature atau begitu saja. 

Gladwel menyampaikan dalam uraian fenomenal tentang teori 10.000 jam. Sederhananya (dalam teorinya) doing the same thing in more than 10.000 hours could make us a pro.

Dan sedari pertama uraian itu saya baca, deklarasi atas keberpihakan dan pengaminan saya pun dimulai. 

Sialnya, saya tidak pernah suka menghabiskan waktu untuk berkutat dalam satu rutinitas kegiatan. Ini mungkin kesimpulan mengapa saya tidak pernah menjadi master untuk hal apapun.

50.000 mill sebelum usia 30

  • 0
Tawaran ini muncul selang sehari dari kedatangan saya kembali ke Yogyakarta.

Siang itu panggilan masuk datang dari Ibu Nafi’atul Umami. Tak banyak obrolan yang kami bangun. Hanya pertanyaan tentang apakah saya kosong atau tidak dalam waktu beberapa hari kedepan.

Saya katakan kala itu dengan tanpa banyak pertimbangan, bahwa saya kosong dengan tidak memiliki tanggung jawab apapun dalam waktu dekat.

Dan jawaban tersebut memiliki konsekuensi atas kesiapan saya untuk dibergunakan tenaga dan apa-apa dari diri saya. Saya memahaminya dengan baik.

Benar apa yang saya sempat pikirkan, karena sesaat kemudian kata beliau: “Kamu ke kepulauan riau ya yud?” Bahkan saat saya masih sulit membedakan ini sebuah pertanyaan atau pernyataan, jawaban “iya” dengan penuh kesiapan dan sedikit usaha menutupi kegembiraan sudah muncul terlebih dahulu dari mulut saya.

Bagaimana tidak.

Semenjak pertama kali berazam beberapa tahun silam. Saya selalu memiliki ketertarikan yang sangat tinggi atas perjalanan-perjalanan yang kemudian saya tempuh. Azam saya kala itu sederhana. Saya ingin pergi sejauh lebih dari 50.000 mill sebelum usia saya 30 tahun. Dan kira-kira ini sudah tahun ke empat semenjak pertama kali azam itu muncul, dan Allah SWT dengan baiknya telah perkenankan untuk saya singgahi tempat-tempat hingga sejauh ini.

Takut Masa Depan

  • 0
Saya pernah ada di titik dimana membayangkan saat-saat lulus dari sekolah dasar adalah fase hidup paling menakutkan. Sampai kemudian saya terbiasa dengan kehidupan bangku sekolah menengah. Atau mungkin membayangkan tentang bagaimana menakutkannya kehidupan paska Aliyah. Hingga saya mendapati fase pemberhentian nyaman di bangku kuliah. Setiap fase ketakutan itu selalu bermuara pada pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang segala hal untuk bagaimana saya dapat bertahan hidup setelahnya. Tanpa terkecuali di fase ini. Membayangkan masadepan selalu menjadi hal yang menakutkan. Terlebih karena bagaimanapun, masa depan akan tetaplah samar sampai kita benar-benar melewatinya. Dan seperti halnya yang sudah-sudah, cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan tetap mengusahakannya.

Tampan itu buat kalian saja.

  • 0

Kalo kata Einstein, hidup itu kek naik sepeda. Untuk bisa tetap dalam keseimbangan, kita harus terus bergerak. Dan sayangnya Enstein lupa menambahkan dan mengingatkan, bahwa setiap putaran roda sepeda akan menambah bilangan usia.

Untuk alasan yang tidak bisa saya pahami, pertambahan usia saya berbanding terbalik dengan tingkat kenaikan paras ketampanan.

Dan untuk kesekian kalinya, saya ingin menjelaskan kepada kalian, bahwa dalam foto ini saya sudah berusaha terlihat tampan.


Tapi sudahlah, tampan itu buat kalian saja. Biarlah saya berjuang dengan jalan lain.


If you can't be handsome, be awesome. 

Opini di Majalah Trobos Edisi November 2016

  • 0
Trobos Livestock - Edisi 206 - November 2016 - Halaman 104
Tulisan ini juga dapat di akses melalui laman resmi dari Majalah Trobos disini

Simpul gerakan transformatif Bojonegoro

  • 0

Saya tumbuh dan besar di Bojonegoro. Tapi apa yang terjadi di Bojonegoro saat ini, jauh lebih cepat dari apa yang saya ketahui.

Mengetahui bahwa di Bojonegoro telah banyak muncul gerakan transformatif dengan fokus isu masing-masing adalah sebuah hal yang menggembirakan.

Sebut saja gerakan revolusi data berbasis digital yang di inisiasi oleh Sinerganta dan Bojonegoro Institute, gerakan pungut sampah bernafaskan lingkungan dari Qohar Mahmudi, sampai gerakan literasi yang digagas beberapa pegiat media, komunitas, dan lembaga pendidikan.

Simpul-simpul ini perlu terus dirawat untuk bisa terus tumbuh. Diresonansikan untuk bisa terus membuka embrio-embrio baru.

Ada harap bagi saya untuk kelak bisa ikut berkotor, mengambil peran, untuk menjaga nafas tumbuh kota yang ikut membentuk saya sampai saat ini.

___________
Inspirasi informasi: http://blokbojonegoro.com/read/module/20161030/buku-blokbojonegoro-dan-gerakan-literasi.html

Kita tidak pernah bisa.

  • 0
 Kita tidak pernah bisa, dan tidak selalu harus menyenangkan hati semua orang.

Menseragamkan otak.

  • 0

Kita tidak bisa menseragamkan otak, yang bisa kita seragamkan hanya niat.

Jangan benturkan urusan akademik dan organisasi

  • 0

Saya menyadari bahwa manifestasi dari lembaga ini adalah tiap-tiap pengurus didalamnya. Orang akan melihat lembaga ini lewat apa-apa yang pengurus kerjakan. Terlepas hal apapun itu, termasuk untuk hal-hal diluar organisasi. 

Oleh karenanya, saya selalu menginginkan setiap dari kita adalah orang yang berdaya.

Orang yang mampu mengiringi kisah-kisah heroik dalam keorganisasian kita dengan capaian-capaian besar di akademik.

Hal itu penting. Karena jaman akan terus bergeser. Kurikulum memaksa kita untuk itu. Tidak ada pilihan lain untuk segera beradaptasi.

Ini salah satu pesan yang terus saya stimulasikan dalam kurun waktu satu tahun kepengurusan ini.
Jangan pernah membenturkan kebaikan.
Kebaikan apa yang saya maksud disini? Ini adalah kaitannya dengan urusan akademik dan organisasi. Saya selalu mengatakan bahwa akademik itu baik, dan organisasi juga satu hal yang baik. Maka, tidak pantas untuk kita membenturkan keduanya. Jalankan keduanya secara beriringan.

Bangun double track.

Teruntuk adik-adik saya di MAN 3 Malang.

  • 0
Terimakasih kepada Ibu Wahyuni Ekowati (Ibu Yuyun) atas permintaannya untuk saya menuliskan ini semua. Semoga bermanfaat.

Tidak ada hal yang cukup istimewa dari diri saya pribadi semasa Aliyah.

Bahkan untuk bisa lulus di Ujian Nasional, itu sudah hal yang sangat luar biasa bagi saya saat itu. Bukan karena apa, hanya karena kapasitas otak saya yang tak seberapa.

Saya dahulu ketua osis, tapi mungkin, kalau bukan karena kedua orang kompetitor saya adalah perempuan, dan saya satu satunya yang dianggap "laki", amanah itu tidak akan pernah hadir pada saya.

***
Hidup saya penuh dengan paksaan paska saya lulus Aliyah. Bukan dari orang lain. Tapi dari diri saya sendiri.

Saya paksa diri saya untuk apapun, hingga kemudian saya 'terpaksa' untuk terbang ke Filipina, menjadi 1 dari 9 delegasi dari Indonesia dalam sebuah forum kepemudaan, atau mungkin 'terpaksa' untuk kemudian menulis dan menerbitkan sebuah buku tentang analisis dan pandangan saya terkait sektor Peternakan ditinjau dari prespektif sosial-politik di akhir tahun lalu.

Tapi jauh sebelum itu, sekali lagi hidup saya penuh dengan paksaan.

Nominal uang pangkal yang harus saya bayarkan untuk masuk pendidikan tinggi adalah angka tertinggi di Fakultas saya. Atas dasar malu pada orang tua, saya pun memaksakan diri saya untuk memenuhi kebutuhan hidup saya. Pada akhirnya saya hidup dengan cara lompat dari satu lembaga beasiswa ke lembaga beasiswa lain. Itu saya lakukan mulai semester 2 saya kuliah hingga saat ini.

Saya juga mulai memaksa diri saya untuk berkompetisi, lomba apapun saya selalu coba ikuti tanpa terkecuali. Singgah ke bengkulu, riau, bandung, dan banyak kota kota lain untuk sekadar "melempar dadu". Gagal pun berkali-kali. Tapi saya bersyukur Allah juga memberi nikmat dengan raihan juara-juara atas kompetisi yang saya usahakan.

Saya selalu memaksa diri saya untuk tidak membenturkan kebaikan. Kebaikan dengan definisi apapun. Termasuk dalam definisi akademik dan organisasi.

Saya paksa diri saya untuk mampu ballance di keduanya, dan Allah pun akhirnya menuntun diri saya untuk mengemban amanah sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa dan Mahasiswa Berprestasi di tingkat fakultas. Di tahun yang sama.

***

Tapi dari sekian hal tersebut, saya masih ingat betul bahwa hal yang pertama kali saya paksakan adalah "Jujur". Dan itu adalah titik tolak bagi saya.

Saya baru memulai untuk jujur dalam ujian ketika kelas 11 semester genap. Sebelumnya? Saya selalu menggantungkan nilai saya dari satu teman ke teman lainnya.

Dan saya pikir saya terlambat untuk memaksa diri saya untuk jujur.

Dampaknya? Saya pernah hingga 4-5 kali menjalani ujian remedial mata pelajaran Matematika di kelas Ibu Wulaida. Belajar dengan berdarah-darah untuk semua mata pelajaran yang di-UNkan. Karena memang saya harus memulai semua dari 0.

Tapi saya bersyukur, saat ini saya menyadari kesemuanya itu bukan hal yang sia sia.

Banyak hal yang saya pikir terlambat untuk saya lakukan. Dan saya berharap keterlambatan ini tidak terjadi pada kalian.

****

Kalau berkenan, ijinkan saya untuk berpesan kepada setiap dari kalian. Sebuah pesan dari kakak kepada adik-adiknya, atau dari teman, untuk teman satu almamaternya.

Karena perjalanan kalian masihlah panjang, oleh karenanya...

Pertama, jangan lupa untuk bangun rekam jejak yang baik. Bantu orang-orang yang kelak akan mengenal kalian lewat apa-apa yang kalian telah kerjakan sebelumnya.

Apa yang saya pahami dan pelajari dari kasus BEM/LEM/LM/DEMA vs KMTETI FT UGM

  • 0

Mungkin kurang lebih judulnya seperti ini:

"Apa yang saya pahami dan pelajari dari kasus ini"

Sulit untuk membendung ekskalasi informasi yang cukup deras ketika informasi tersebut sudah dilempar ke publik.

Media sosial bagi saya adalah perkara mengenai siapa yang lebih cepat membentuk frame berfikir pada publik secara umum.

Karena, siapapun yang mampu membangun frame lebih awal dia yang akan unggul dalam membangun trust lebih awal.

Framing merupakan metode penyajian realitas di mana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan di kemas sesuai kebutuhan pemberi informasi.

Karena, sebagian besar dari kita awam akan hal yang terjadi sebenarnya. Kita butuh untuk dibantu memahami.

Dalam keadaan kosong ini, kita akan cenderung menerima informasi apapun yang masuk sampai kita mendapat informasi pembanding.

Jika uraian tersebut juga dapat kita kontekstualkan pada perkara ini. Kurang adil rasanya jika hanya ada satu frame informasi yang dihadirkan pada publik saat ini. Dan ijinkan jug saya untuk menunggu frame-frame lain.

Salah jika merisaukan PPN terlalu dalam

  • 0
Pertama-tama saya ingin mengucapkan permohonan maaf saya yang mendalam ketika Anda menemui alur gagasan yang agak rumit dalam tulisan saya kali ini. Sejujurya saya sudah menghabiskan waktu berhari-hari hanya sekadar untuk membuat tulisan ini terlihat lebih sederhana dan memiliki alur yang mudah untuk di ikuti. Namun, berurusan dengan tata kelola perundangan-undangan, cukup sulit untuk membuatnya menjadi sederhana tanpa terlihat ‘parsial’. Oleh karenanya, saya mengharap kemakluman Anda sekalian atas hal tersebut.
Mengetahui bahwa Peraturan Menteri Keuangan Nomor 267/PMK.010/2015 sudah di cabut atas instruksi Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution pada 22 Januari 2016 lalu (setelah sebelumnya di tetapkan pada 31 Desember 2015 dan mulai diberlakukan pada 8 Januari 2016) adalah hal mendasar yang harus dipahami sebelum jauh berbicara mengenai polemik dan dinamika Permenkeu tersebut. Ini sedikit banyak akan membantu framing berfikir kita agar lebih aktual dan komperhensif dalam melihat dan memahami duduk persoalan ini.

***
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2015 yang ditetapkan oleh Presiden per-tanggal 2 November 2015, pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 267/PMK.010/2015 untuk menjelaskan pasal 1 dalam Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2015 yang menyatakan bahwa 
  • “Pasal 1 : (1) Barang Kena Pajak tertentu yang bersifat strategis yang atas impornya dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai meliputi:
    • d. ternak yang kriteria dan/atau rinciannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertanian;…”
Permenkeu Nomor 267/PMK.010/2015 yang terbit 31 Desember 2015 kemudian menjelaskan bahwa kriteria dan/atau rincian ternak yang di bebaskan dari pengenaan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) adalah hanya ternak betina produktif baik asal impor maupun penyerahan dalam negeri. Inilah yang kemudian menjadi polemik dan menimbulkan riak sana-sini.

Keluarga Ideologis.

  • 0
Seperti halnya orang tua yang selalu khawatir dan penuh ketidak percayaan.
Tolong jangan rawat ketidakpercayaan kami untuk menitipkan BEM kedepan ke kalian.
Trailer: Training Leadership BEM Fakultas Peternakan 2015

Peternakan tidak sebatas urusan “tai”

  • 0

Terlepas apapun orientasi kalian. Takdir telah mengijinkan kalian untuk merasakan bangku pendidikan tinggi. Sebuah kesempatan yang tidak hadir bagi semua orang.

Percayalah. 

Terlepas dari segala prestige, puja-puji, atau kebanggaan yang hari ini mungkin sedang menghegemoni setiap pribadi dari kalian. Hadir pula tanggung jawab yang di titipkan di sela-sela jahitan kancing almamater kalian.

Tanggung jawab atas Tuhan, bangsa, dan almamater.

Semakin datang kekuatan besar, maka akan datang pula tanggung jawab yang jauh lebih besar. Hal ini akan selalu berjalan linier. Kalian harus pahami ini jauh sebelum apapun.

Kampus tidak sesempit petak-petak ruang kelas. Akan ada banyak hal yang akan kalian dapatkan diluar itu. Coba hadirkan diri kalian untuk keduanya. Lakukan keduanya beriringan. Karena keduanya sama-sama baik, tidak selayaknya dibenturkan.

Kelak akan kalian pahami. Kampus ini hadir, salah satunya untuk memberi ruang kalian berjejaring. Lakukan itu. Semai terus di setiap kesempatan. Dan biarkan investasi itu berbuah kelak untukmu.

Banyak hal yang harus disulam, dibenahi, atau bahkan ditata-ulang. Pun sektor Peternakan juga tidak terlepas dari itu. Terimakasih sudah ikut mengambil peran. Mewakafkan diri kalian untuk bangsa ini.

Semoga, di setiap capaian. Tuhan selalu menata hati dan niat kita. Niat untuk semata memberi manfaat bagi orang lain. Memberi manfaat yang jauh lebih panjang dari usia kita. Penuh kerelaan. 

Karena konon, kerelaan adalah titik tertinggi dari sebuah ilmu.

Selamat berproses.

Peternakan tidak sebatas urusan “tai”. 
Kita Peternakan!

*Pesan Selamat Datang dari saya selaku Ketua BEM Fakultas Peternakan UGM kepada Mahasiswa Baru Fakultas Peternakan UGM 2015

Peternakan tidak sebatas urusan “tai”


Terlepas apapun orientasi kalian. Takdir telah mengijinkan kalian untuk merasakan bangku pendidikan tinggi. Sebuah kesempatan yang tidak hadir bagi semua orang.

Percayalah. 

Terlepas dari segala prestige, puja-puji, atau kebanggaan yang hari ini mungkin sedang menghegemoni setiap pribadi dari kalian. Hadir pula tanggung jawab yang di titipkan di sela-sela jahitan kancing almamater kalian.

Tanggung jawab atas Tuhan, bangsa, dan almamater.

Semakin datang kekuatan besar, maka akan datang pula tanggung jawab yang jauh lebih besar. Hal ini akan selalu berjalan linier. Kalian harus pahami ini jauh sebelum apapun.

Kampus tidak sesempit petak-petak ruang kelas. Akan ada banyak hal yang akan kalian dapatkan diluar itu. Coba hadirkan diri kalian untuk keduanya. Lakukan keduanya beriringan. Karena keduanya sama-sama baik, tidak selayaknya dibenturkan.

Kelak akan kalian pahami. Kampus ini hadir, salah satunya untuk memberi ruang kalian berjejaring. Lakukan itu. Semai terus di setiap kesempatan. Dan biarkan investasi itu berbuah kelak untukmu.

Banyak hal yang harus disulam, dibenahi, atau bahkan ditata-ulang. Pun sektor Peternakan juga tidak terlepas dari itu. Terimakasih sudah ikut mengambil peran. Mewakafkan diri kalian untuk bangsa ini.

Semoga, di setiap capaian. Tuhan selalu menata hati dan niat kita. Niat untuk semata memberi manfaat bagi orang lain. Memberi manfaat yang jauh lebih panjang dari usia kita. Penuh kerelaan. 

Karena konon, kerelaan adalah titik tertinggi dari sebuah ilmu.

Selamat berproses.

Peternakan tidak sebatas urusan “tai”. 
Kita Peternakan!

*Pesan Selamat Datang dari saya selaku Ketua BEM Fakultas Peternakan UGM kepada Mahasiswa Baru Fakultas Peternakan UGM 2015

AddThis Smart Layers

Back to Top