Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Facing the quarter life crisis (1)

  • 0
Usia saya saat ini 24 tahun. Beristri. Pekerja swasta.

Everything has always their own consequence. If you chose entering the world where everyone gamble their live at, its mean that you have already old enough to think and take care of your self more deeply.

Ketika kecil, tidak banyak hal yang kita bisa bayangkan akan masa depan. Usia kemudianlah yang membuka cakrawala kita soal betapa "menyeramkannya" hidup setelah masa-masa tanpa beban menjadi anak-anak.

Masa depan selalu begitu menyeramkan bila diimajikan. Karena memang seperti itulah sifat dasar kita. Selalu takut akan hal-hal yang tidak kita ketahui. Dan begitulah kenapa seringkali gelap membuat kita takut. Hal apapun yang datang/kita hadapi saat gelap diluar kemampuan kita untuk memperhitungkannya.

When you reached 20 years old, the complexity of life is just already starting. You will face a lot of choices that need your decision in a proper way and on the right time.

Tetek bengek persoalan memilih jauh lebih komplek dan memusngkan. Tapi begitulah dewasa itu bekerja. Regarding how to fulfill your life through working in a company till how to chose the right couple to marry with. Kurang lebih dua persoalan tersebut semoga bisa mewakili urusan kesemuanya. Walau bagaimanapun juga, keterwakilan itu tetaplah tidak terwakili. Persoalannya jauh lebih menguras peluh diluar imaji yang bisa kita bayangkan.

50.000 mill sebelum usia 30

  • 0
Tawaran ini muncul selang sehari dari kedatangan saya kembali ke Yogyakarta.

Siang itu panggilan masuk datang dari Ibu Nafi’atul Umami. Tak banyak obrolan yang kami bangun. Hanya pertanyaan tentang apakah saya kosong atau tidak dalam waktu beberapa hari kedepan.

Saya katakan kala itu dengan tanpa banyak pertimbangan, bahwa saya kosong dengan tidak memiliki tanggung jawab apapun dalam waktu dekat.

Dan jawaban tersebut memiliki konsekuensi atas kesiapan saya untuk dibergunakan tenaga dan apa-apa dari diri saya. Saya memahaminya dengan baik.

Benar apa yang saya sempat pikirkan, karena sesaat kemudian kata beliau: “Kamu ke kepulauan riau ya yud?” Bahkan saat saya masih sulit membedakan ini sebuah pertanyaan atau pernyataan, jawaban “iya” dengan penuh kesiapan dan sedikit usaha menutupi kegembiraan sudah muncul terlebih dahulu dari mulut saya.

Bagaimana tidak.

Semenjak pertama kali berazam beberapa tahun silam. Saya selalu memiliki ketertarikan yang sangat tinggi atas perjalanan-perjalanan yang kemudian saya tempuh. Azam saya kala itu sederhana. Saya ingin pergi sejauh lebih dari 50.000 mill sebelum usia saya 30 tahun. Dan kira-kira ini sudah tahun ke empat semenjak pertama kali azam itu muncul, dan Allah SWT dengan baiknya telah perkenankan untuk saya singgahi tempat-tempat hingga sejauh ini.

Obrolan bersama mahasiswa Fakultas Pertanian UNS

  • 0
Tempo hari lalu saya berkesempatan untuk singgah ke Solo. Bertegur sapa dan berdiskusi dengan teman-teman di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo. Salah satu hal yang saya akan terus nikmati adalah ketika berbincang tentang tetek bengek peternakan. Dan bersama teman-teman dengan latar belakang keilmuan yang sama, selalu saya temukan perbincangan ini. Mengalir, menggebu, dan penuh emosi.

Di setiap kesempatan saya menjadi pemantik diskusi, saya selalu membuka dan membawa kesemua yang saya sampaikan dalam kerangka gagasan skeptis. Mencoba selalu menggali sisi-sisi terburuk. Menemukan borok. Meluapkan caci. Untuk kemudian merenunginya bersama dan mencoba berfikir titik temu dari setiap permasalahannya. Karena kedepan bagaimanapun juga tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan itu akan hadir pada setiap dari kita. Dan sampai saat itu tiba, ada masa yang panjang untuk menyiapkan diri.

***
Terimakasih atas kesempatan yang temen-temen HMP Appalosa (Himpunan Mahasiswa Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian UNS) dan BEM Fakultas Pertanian UNS atas kesempatannya. Semoga lain waktu kita bisa bertemu kembali, untuk sekadar berbincang atau bahkan untuk saling bahu membahu mengambil peran.


Poster publikasi kegiatan via akun Himpunan Mahasiswa Peternakan Fakultas Pertanian UNS


Suasana Diskusi di Fakultas Pertanian UNS

Jangan benturkan urusan akademik dan organisasi

  • 0

Saya menyadari bahwa manifestasi dari lembaga ini adalah tiap-tiap pengurus didalamnya. Orang akan melihat lembaga ini lewat apa-apa yang pengurus kerjakan. Terlepas hal apapun itu, termasuk untuk hal-hal diluar organisasi. 

Oleh karenanya, saya selalu menginginkan setiap dari kita adalah orang yang berdaya.

Orang yang mampu mengiringi kisah-kisah heroik dalam keorganisasian kita dengan capaian-capaian besar di akademik.

Hal itu penting. Karena jaman akan terus bergeser. Kurikulum memaksa kita untuk itu. Tidak ada pilihan lain untuk segera beradaptasi.

Ini salah satu pesan yang terus saya stimulasikan dalam kurun waktu satu tahun kepengurusan ini.
Jangan pernah membenturkan kebaikan.
Kebaikan apa yang saya maksud disini? Ini adalah kaitannya dengan urusan akademik dan organisasi. Saya selalu mengatakan bahwa akademik itu baik, dan organisasi juga satu hal yang baik. Maka, tidak pantas untuk kita membenturkan keduanya. Jalankan keduanya secara beriringan.

Bangun double track.

Istirahat saja dulu sudah

  • 0

Tubuh saya menggigil tempo hari lalu. Hal itu berulang terus menerus pada jam yang sama setiap 12 jam sekali.

Saya divonis malaria.

Ini hari ke delapan belas sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di tanah papua. Konon, daya tahan seseorang terhadap malaria akan bisa terlihat di tiga minggu awal. Apabila demam disertai beberapa gejala klinis lain, maka dapat dipastikan parasit plasmodium sudah ikut mengalir dalam darah. Berkembang biak di hati dan menginfeksi sel darah merah setelah sebelumnya terkena gigitan nyamuk betina/anopheles.

Ada dua jenis malaria mematikan di daerah tempat saya tinggal di Papua. Malaria Tropicana dan Malaria Tersiana. Keduanya sangat berbeda, termasuk dalam hal bagaimana tubuh meresponnya dalam bentuk gejala klinis yang timbul.

Saya tidak menyangka karena pada akhirnya  saya akan tumbang pada Malaria Tersiana plus 1.

Hari saya disini masihlah panjang, bukan untuk apa, hanya untuk saya sekadar bisa pulang menengok keadaan bapak yang kabarnya dirawat di rumah sakit persis pada hari yang sama saya divonis malaria.

Salam Pamit Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa BEM Fakultas Peternakan UGM 2015

  • 0

Laporan Pertanggungjawaban Ketua BEM Fakultas Peternakan UGM 2015

Laporan Pertanggungjawaban BEM Fakultas Peternakan UGM
Tuhan selalu memiliki alasan untuk menitipkan amanah ini ke kami. Dan ijinkan saya untuk menyampaikan pertanggungjawaban kami atas amanah ini. Monggo untuk bisa simak intisarinya melalui laman berikut http://tinyurl.com/LaporanKetuaBEMPeternakanUGM

dari yang sudah masuk waktu malamnya

  • 0
Selamat pagi, hari ini hari pertama kampanye di Fakultas. 

Untuk saat ini saya pribadi membuka ruang sebesar-besarnya untuk semua orang yang mau memiliki niat baik untuk ngelanjutin kepemimpinan BEM kedepan.

Kalian boleh mengambil sikap untuk siapapun yang menurut kalian pantas. 
Bukan hanya baik, karena sekedar baik tidak cukup.

Untuk kalian yang sedang mengusahakan, baik untuk siapapun. 
Usahakan saja yang terbaik.
Belajar dari pengalaman lalu. 
Jangan bikin gaduh terlalu riuh di kampanye ini. 
Kampanyenya yang cerdas.

Kita tidak akan menjadi tinggi dengan merendahkan orang lain. 
Adu gagasan saja lah, jangan adu yang lain.

Semoga sukses! Untuk siapapun itu.
Ingat, kemenangan datang pada orang yang siap~

Ttd, 
dari yang sudah masuk waktu malamnya
Muhamad Yuda Pradana

Back to reality!

  • 0
Sama-sama sedang menjalani perjalanan pulang. Hanya Negara dan stasiun keberangkatan kami berbeda.
Selalu ada hal yang mengikuti di setiap keputusan dan pilihan yang diambil.
Sampai jumpa kembali di Jogja. let's back to reality~
Stasiun Malang Kota Baru

Lebih lama dari selamanya.

Yuda, Hafidz, Fia, Dylan, Bagas, Willy, Bagus, Ojik, Rahma, Das, Billa, Ayu Dwi

Pemateri mengenai Leadership dan Organisasi di HIMAPA UGM

  • 0
Terimakasih antusias temen temen Himpunan Mahasiswa Pariwisata FIB UGM sore tadi. Semoga lain kali kita bisa berbagi ide, berbagi gagasan, bahkan harapan di lain kesempatan lagi.
Semoga diskusi sore tadi ada impact manfaat kedepannya. Sukses buat kalian (y)
Kenang kenangannya lucu :"3

Surat Terbuka: Mari Sinergi, Ciptakan Karya

  • 0

Mari bersinergi ciptakan karya,
Perjalanan panjang Bem Fakultas Peternakan Ugm di kepengurusan 2015 dimulai hari ini. Banyak hal yang harus di lengkapi, di sulam, dan dibenahi. Dengan niatan berusaha bergerak dan memposisikan diri kearah idealita dan kodrat lembaga ini selayaknya.

Kami akan selalu memposisikan diri untuk mencoba mengabdi dan melayani. Tegur kami jika kami salah, tapi satu hal jangan hanya diteriaki dari jauh. Mari ikut berkotor badan menyelesaikannya bersama-sama.

Keterbatasan tetaplah ada. Oleh karenanya bantu kami, untuk kemudian bersama bergerak, bersinergi, untuk kemudian menciptakan karya. Bukan omongan melangit tanpa hasil kongkrit.

Bantu kami untuk kemudian mengabdi dan memberi pelayanan terbaik. Kami bukan superhero yang kemudian mampu menyelesaikan semuanya sendiri. Namum, kami coba azamkan diri kami untuk sekadar mewakafkan diri kami untuk pengabdian dan pelayan kampus. Mari bersinergi untuk kemudian menciptakan karya. Bismillaaah!

Yogyakarta, 6 Januari 2015
Ttd,
Muhamad Yuda Pradana
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa
Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada
Salam sinergi berkarya!

Logo BEM Peternakan UGM

Official Letter of Acceptance ASEAN Youth Summit 2015

  • 0
"Fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadziban -
Nikmat tuhanmu yang mana engkau dustakan"
Alhamdulillah, baru semalem akhirnya nerima Official Letter of Acceptance. Usaha dan doamu tak akan pernah menghianatimu. Allah SWT selalu ngasih jalan kalo ada usaha sama doa. Semoga berkah dan ada manfaatnya :")
Terimakasih buat temen-temen yang dari kemaren selalu ngendorse :")


Catatan 2 - Bengkulu: Mahasiswa Fakultas Peternakan Raih Juara Umum dalam Temu Ilmiah Mahasiswa Peternakan Indonesia 2013

  • 0
Ki-Ka: Tarmidzi, Saya, Ajat, Muhsin, Prof. Ali Agus (Dekan Fakultas Peternakan UGM), Satyaguna, Trikartika, Surya, Hafiz
Sekretariat Fakultas Peternakan UGM - Mahasiswa Fakultas Peternakan kembali meraih prestasi di tingkat nasional. Kali ini, mahasiswa Fakultas Peternakan meraih juara umum dalam Temu Ilmiah Mahasiswa Peternakan 2013 yang berlangsung pada 7-12 November 2013 di Universitas Bengkulu dengan tema “Strategi dan Kebijakan Alternatif Swasembada Sapi Indonesia”.
Dalam ajang tersebut, ada tiga kategori yang dilombakan yaitu Presentasi Policy Paper Nasional, Debat Peternakan Nasional, dan Mahasiswa Berprestasi Nasional. Tim Fakultas Peternakan berhasil meraih juara I dalam semua kategori tersebut. Juara I Presentasi Policy Paper Nasional diraih oleh Ajat Santosa (angkatan 2011), Juara I Debat Peternakan Nasional diraih Tri Kartika Sari, dkk, dan Juara I kategori Mahasiswa Berprestasi Nasional diraih oleh Muhsin Al Anas (angkatan 2010).
Dalam temu ilmiah yang diselenggarakan setiap 2 tahun tersebut, tim Fakultas Peternakan bersaing melawan 16 universitas dari seluruh Indonesia diantaranya Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Jenderal Soedirman, Universitas Padjadjaran, Institut Pertanian Bogor, Universitas Brawijaya, Universitas Sriwijaya, dll.
Kesuksesan yang diraih oleh tim Fakultas Peternakan tersebut tidak terlepas dari program yang kini tengah dirintis oleh Fakultas yaitu membentuk kelompok mahasiswa yang memiliki motivasi tinggi berorganisasi dan berprestasi. Kelompok mahasiswa tersebut tergabung dalam program AB-3 yang ditargetkan akan menjadi mahasiswa dan lulusan yang dapat diAndalkan dan diBanggakan. Selain itu, mereka juga ditanamkan spirit B-3 yaitu Be better, Be the leader dan Be the winner.

Kontingen Bersama Bapak Budi Guntoro (Wakil Dekan I Fakultas Peternakan UGM)

Bersama Kontingen

Bogor - Mandiri Leadership Camp Batch II

  • 0

Bersama Orang-Orang Hebat
Suatu ketika ada seekor kodok yang dimasukkan kedalam panci bersisi air bersih. Panci kemudian dipanasi, sehingga sedekit demi sedikit suhu airpun menjadi naik. Karena kodok dilengkapi mekanisme suhu tubuhnya dapat menyesuaikan diri dengan suhu lingkungan, kodokpun tidak merasakan adanya perubahan. Pada akhirnya,  kodok itupun mati tanpa reaksi apapun saat air sudah mendidih. Ibarat kita, fenomena kodok rebus ini merupakan metafora bagi setiap orang yang tidak mau keluar melihat atau belajar dari lingkungan diluar mereka biasa hidup. Semakin banyak bertemu orang maka akan semakin banyak pula saya belajar.
Mari keluar dan mari belajar :)

Tidak bisa 99 orang berfikir semua, harus ada yang bergerak, harus ada yang bertindak
           
Ini Zona Merah Terakhir Saya

Catatan 1 - Bengkulu: Belajar Mengenal Negeri Ini Seutuhnya

  • 0

                Hari ini selang empat hari kepergian saya dari Kota Bengkulu. Kota yang menyisakan kenangan karena untuk kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Sumatra. Tanah dimana orang melayu tumbuh sesak memadati setiap bagiannya atau sekadar berjumpa dengan orang-orang  keturunan tionghoa dengan perawakan  tubuh pendek, mata sipit, dan kulit agak kekuningan. Menyeduh kopi, bercengkrama, dan bermain dengan permainan sejenis gaplek seperti kebanyakan orang jawa mainkan di warung kopi.
                Bengkulu adalah kota dimana Sukarno pernah diasingkan dan berjumpa untuk pertama kali dengan dengan ibu Fatmawati. Sosok gadis yang menjadi bagian hidup dari pemimpin pertama Republik ini. Mungkin ide Indonesia saat ini tidak lepas dari ibu Fatmawati. Nama itu kini diabadikan sebagai sebuah bandara oleh orang sana dan menjadi bagian dari wajah kota ini, bahkan bagian kecil dari tanah sumatra yang saya lihat pertama kali.
                 Jum’at itu untuk kali pertama saya dapat melihat hamparan hijau bumi republik ini dari ketinggian. Melihat horizon sejauh mata sanggup memandang. Menyeduh setiap bagian dari Bumi Pertiwi ibarat sebuah pelajaran geografi yang sesaat itu juga disuguhkan dengan visualisasi nyata nan syahdu. Ingin rasa melihat republik ini selalu dari ketinggian. Mengabaikan hiruk pikuk masalah negara ini yang selalu disuguhkan dilayar kaca setiap saatnya. Mengesampingkan masalah-masalah etnis dan agama yang selalu dimunculkan di permukaan meskipun pembahasan ini sudah final sejak Pancasila menjadi dasar Negara ini.
                Saya masih teringat ketika pada sabtu saya berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya yang entah kenapa saya baru menyadari bahwa seluruh orang diruangan itu menyanyikan lagu dengan nada, lirik, dan ritme yang sama. Bahkan saya baru bisa merasakan bahwa akhirnya saya berada di Indonesia. Indonesia yang bukan hanya sebatas Jakarta-Banyuwangi, atau Sunda-Jawa-Madura, namun Indonesia seutuhya. Hari itu saya menyadari bahwa Indonesia ini bukan sekadar wadah, simbol, ataupun formalitas sebuah negara. Namun Indonesia adalah sebuah kata yang setiap orang di Republik ini berhak memaknai atau mendefinisikan Indonesianya dengan koridor ke-Bhinekaan.
                Minggu lalu Bengkulu telah memberikan banyak hal kepada saya. Saya selalu asyik ketika berbicara mengenai Bangsa, Republik, atau Negara bak sebuah kosa kata yang mudah diucap. Hal yang berbeda adalah ketika apa yang saya ucap hanya berdasar apa yang saya baca lewat buku-buku tebal yang berjajar menghiasi rak buku di kamar saya. Saya ingin belajar mengenai Negeri ini seutuhnya, bukan hanya lewat alunan lembut deretan tulisan. Harap yang selalu terus membumbung di ubun-ubun adalah ketika saya bisa mengenal Negeri ini seutuhnya.
                Ini bukan cerita mengenai apa yang saya lakukan dan dapatkan disana. Ini adalah cerita dimana saya mulai perlahan-lahan belajar memandang Republik ini secara komperhensif, secara utuh. Bukan semata-mata hanya melihat secara parsial, melakukan sampling dan menjustifikasi diri saya bahwa saya sudah mengenal Negeri ini.

Selamat Datang di Musem dan Perpustakaan Pribadi "yudapradana"

  • 0

Now and Before
Ya yaaa akhirnya selese juga nggarap dinding kamar. Sebelum orang lain menghargai saya, saya adalah orang pertama yang akan menghargai diri saya sendiri. Menghargai setiap kenangan yang sudah lalu, dan bertanya kepada cermin "..Sudahkah saya berkembang dari yang lalu..". Ini cara saya menghargai kenangan dan mencoba menyusun masa depan. Ikhtiar ini belum selese, proses ini terus berjalan, proses untuk menuju lebih baik.

Selamat datang di kamar kos saya, perpustakaan dan museum pribadi yudapradana :)


Satu
Dua
Tiga


Kesempatan Menjadi Bagian dari Penerima Beasiswa Karya Salemba Empat

  • 0
Alhamdulillah Allah SWT telah mengijinkan saya untuk menjadi bagian dari penerima beasiswa [Karya Salemba Empat], dan ini adalah kado terbaik yang diberikan-Nya di awal semster ini. Semoga beasiswa ini
menjadi barokah untuk setiap nominal yang saya keluarkannya.

Saya juga ingin sedikit berbagi tulisan saya yang sempat dijadikan prasyarat untuk pengajuan beasiswa ini. Semoga ini bisa mewakili semua pertanyaan kenapa saya harus mengajukan beasiswa ini.

Selamat malam dan mari kita tenun asa untuk masa depan kita dan bangsa ini, karena cerita dan sejarah ini belum berakhir!
 
Ini Jalan Saya untuk Sekadar Memperjuangkan Asa untuk Bangsa Ini
Oleh: Muhamad Yuda Pradana
Banyak yang bilang bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami serangan penyakit. Ibarat manusia, Indonesia mungkin sedang mengalami sejenis penyakit kanker atau jantung yang terkenal mematikan. Semakin lama semakin mengganas. Mungkin akibat dari penyakit yang diderita sudah terlanjur kronis, bahkan hanya untuk sekedar membuka mulut menunjukkan taringnya pun bangsa ini tidak mampu. Dampaknya, bangsa ini terkesan lamban untuk bergerak, dan sulit untuk menjadi bangsa yang mandiri. Namun setiap penyakit selalu ada obat dan jalan keluarnya, bagaimanapun juga optimisme harus selalu dibangun mengingat semua potensi yang dimiliki bangsa ini belum dikelola secara optimal. Optimisme tidak harus realistis, hanya perlu distimulus setiap saat untuk membangkitkan gairah dan harapan bagi bangsa ini agar menjadi lebih baik.
Sektor pangan adalah bagian paling kompleks bangsa ini jika dilihat dari aspek masalah dan peluang dalam sumbangsihnya untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa ini. Karena bangsa ini dihadapkan dengan sekitar 240 juta penduduk yang menuntut untuk terpenuhi kebutuhan pangan tiap harinya. Pemenuhan akan kebutuhan pangan menjadi aspek yang selalu menjadi sorotan dalam setiap rencana pembangunan pemerintah. Ketahanan pangan, istilahnya seperti itu. Peternakan adalah subsektor pertanian yang memegang peran penting dalam pengembangan ketahanan pangan bagi bangsa ini. Dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani, dapat dikembangkan peternakan dengan sistem integerated farming dengan sektor pertanian.
Berangkat dari isu pangan tersebut saya ingin mencoba membawa sebuah asa untuk bangsa ini. Sebuah asa guna mencoba sedikit demi sedikit mengobati bagian-bagian tubuh bangsa ini yang mengalami luka. Dengan semangat untuk memperbaiki kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul di bidang peternakan, Fakultas Peternakan UGM adalah pilihan dan sebuah langkah awal saya untuk membangun optimisme bagi bangsa ini. Membangun bangsa dari sektor pangan. Klise memang harapan yang saya tuturkan, tapi itulah harapan. Harapan yang coba saya wujudkan lewat almamater ini dengan segenap potensi yang dimiliki bangsa ini.
Bercerita mengenai keluarga saya, sebenarnya latar belakang keluarga saya tergolong keluarga yang mampu dari segi ekonomi untuk sekadar menghidupi dan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari kami. Bahkan dengan tambahan beban tanggungan keluarga adik dari ibu yang harus ikut “numpang” akibat sudah tidak adanya tulang punggung keluarganya pun keluarga saya seakan tidak merisaukannya, mungkin karena memang bukan dianggap sebagai beban. Puncaknya sampai-sampai dengan biaya uang pangkal tertinggi untuk masuk perguruan tinggi yang harus saya bayarpun kami akhirnya tawadhu tanpa sedikitpun penolakan. Walaupun hal tersebut terjadi akibat kesalahan saya pada saat input data penghasilan orang tua saya. Kondisi seperti itulah yang membuat istilah beasiswa begitu tabu untuk kami, tabu karena istilah tersebut terkadang erat kaitannya dengan masalah ekonomi. Sehingga tidak pernah terbersit asa sedikitpun untuk sekadar apply beasiswa. Bukan dengan dasar kesombongan namun lebih mengenai menghargai hak orang lain yang lebih membutuhkan. Itu prinsip yang selalu coba keluarga kami usung.

Transkrip Pidato Wisuda Angkatan ke-20 MAN 3 Malang

  • 0
Malang, 23 Juni 2012

Tulisan dibawah ini merupakan transkrip pidato saya dalam rangka mewakili wisudawan/wisudawati pada acara wisuda dan pelepasan siswa-siswi angkatan ke-20 MAN 3 Malang sekaligus Launching GEMMA SEMI (Gerakan Mewujudkan MAN 3 Malang Sebagai Etalase Madrasah Indonesia).

Malang, 23 Juni 2012 




Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Pembukaan dan Muqodimah

Sebuah kebanggan ketika saya bisa berdiri disini, berdiri dihadapan para wisudawan, berdiri dihadapan bapak/ibu wali murid kelas 12 yang kalau saya boleh cermati terlihat dari raut wajah beliau-beliau ini terdapat rasa bangga ketika melihat putra-putrinya memakai setelan jas lengkap memakai kebaya dengan anggun dan yang pasti bangga melihat putra-putrinya pada hari ini menjadi seorang wisudawan, juga sebuah kebanggan bagi saya bisa berdiri dihadapan bapak/ibu guru, orang-orang yang kalau boleh saya sebut, adalah orang-orang yang memiliki daya ikhlas tinggi dan hati yang mulia yang telah mendidik dan mengajarkan banyak hal kepada kami selama tiga tahun ini.

Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Dan hal yang terpenting dengan berdirinya kami disini, adalah kami ingin mengucapkan rasa terima kasih kami mewakili teman-teman kelas 12, yang mungkin tidak akan cukup menggantikan segala hal yang bapak/ibu guru lakukan/korbankan selama tiga tahun ini untuk mendidik kami.

Mungkin kalau saya boleh berpendapat tentang jasa seorang guru, bolehlah Indonesia saat ini berterima kasih kepada para pengusaha kaya, wirausahawan, atas jasa mereka, perekonomian bangsa dapat meningkat, kepada para atlit  yang mengharumkan nama bangsa, dsb, tapi Indonesia tidak boleh lupa bahwa bahwa kita memiliki bapak/ibu guru yang jika tanpa mereka indonesia tidak akan menjadi bangsa yang ber-adab, bangsa yang bermoral, bangsa yang berilmu, dan ini lebih penting daripada menjadi bangsa yang kaya dari segi materi.

Berikutnya adalah Ucapan maaf dengan segala kerendahan hati kami, ingin kami sampaikan mewakili teman-teman, yang selama tiga tahun kemaren mungkin terdapat banyak kesalahan, yang selama tiga tahun kemarin sering menyusahkan bapak/ibu, yang selama tiga tahun menambah beban hidup bapak/ibu guru, namun harapan kami adalah semoga semua hal yang bapak/ibu guru korbankan dan lakukan akan menjadi sebuah hal yang oleh ALLAH SWT dinilai sebagai amal ibadah yang memudahkan jalan surga untuk bapak/ibu guru.

Selamat siang untuk teman-teman wisudawan-wisudawati.

Tidak ada kebersamaan yang abadi dan itu adalah hal yang alami, seperti halnya air yang mengalir dari atas kebawah, perpisahan seperti halnya anak panah yang melesat dari busurnya, anak panah itu akan berlari menuju sasaran, dan busurpun siap menjadi pelontar bagi yang lain, itulah sebuah proses, proses yang dilakukan secara terus menerus oleh madrasah ini. Mencetak, mencetak, dan mencetak anak-anak bangsa yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Akankah kita disini bisa menjadi busur yang tepat sasaran seperti yang diharapkan madrasah ini, itulah yang menjadi tanggung jawab kita setelah ini.

AddThis Smart Layers

Back to Top