Sekeras apapun, terlebih soal perasaan. Perempuan selalu punya dua opsi jawaban atas apa-apa yang kita mintakan, "iya", atau "aku ingin lihat usahamu". ㅤㅤ
Dan begitulah saya, umumnya laki-laki 'biasa' lainnya, mendapat opsi jawaban kedua adalah salah satu hal yang saya syukuri dibanding opsi jawaban lain semisal "saya ingin lihat usaha orang lain"
Paradoks Stock Dale
Jim Collins dengan Good to Greatnya adalah satu bacaan yang ikut ngehabisin pagi malam uwek. Khas penulis non-fiksi lain, narasinya dipenuhi cerita empiris soal apa yang dia anggap sebagai fakta. Tapi jauh dari data statistiknya, uwek lebih terkesima soal konsep PARADOKS STOCKDALEnya. Tentang kenyataan bahwa kaum optimis adalah orang-orang yang akan pertama tumbang dalam marathon untuk konteks apapun. Idup sering menghantam kita begitu kerasnya, dan optimisme selalu menyalakan lilin untuk kita bisa terus berharap akan 1 meter jalan di depan yang bisa kita lalui. Tapi ternyata, energi kita kadang tidak pernah cukup untuk menghadapi fakta brutal bahwa idup ternyata tidak semudah analogi soal lilin. Terkadang tangan kita tak kuat nahan lelehan lilin, atau tak sengaja lilin tersebut padam, atau bahkan terjatuh. Idup memang tara pernah mudah untuk siapapun. Dan sekali lagi. Optimisme menghancurkan empunya.
Ada hal lebih besar dari soal tetek bengek optimisme. Menahan kuatnya nafas. Seperti halnya dalam cerita Stockdale. Memegang keyakinan soal kita akan survive pada akhirnya, harus dengan underline bahwa, realitas saat ini kudu kita adepin dengan baik dan menperpanjang nafas adalah jalan terbaik untuk menjaga asa.
Uwek menutup chapter tersebut sembari teringat soal beberapa kawan yang saat ini masih berpanjang nafas, sedang yang lain bahkan lupa dia bernafas untuk asa yang mana. Pun tersebut berlaku untuk diri uwek. Sekarang, bagaimana dengan klean?
Pulang Kembali ke-Bojonegoro
Dan tudey, adalah saat-saat saya beneran sedang ngebuktiin bahwa kita endak bakalan pernah bisa ngatur takdir. Kita hanya boleh ngusahain dan sisanya kembali ke hukum Tuhan soal tawakkal dan qanaah.
Mencari penghidupan di Kalimantan, di holdingnya Astra, ngurusin sesuatu yang linier dengan background study, dengan take home pay dua digit, fasilitas rumah dan tetek bengek transportasi dan penunjang lain, saya kira adalah hal paling luar biasa yang bisa tak dapetin di umur 24an ini. Bener-bener berada di track yang saya bayangin. Sampai kemudian saya sadar bahwa dari setiap proses lari marathon yang saya lakuin, ternyata saya udah banyak ngejual waktu saya dengan Keluarga. Singkatnya, sedari lepas sekolah dasar sampek sore aku nulisin ini, praktis cuman bisa ngehabisin waktu dengan Bapak-Ibu ketika libur sekolah/kuliah/cuti. Selebihnya, udah macam hamster lari di atas roda.Di titik yang sama vice president saya nawarin buat nyoba ke Australia, keputusan untuk pulang, akhirnya bulet tak ambil.
Sepeninggal Bapak, udah waktunya ngambil pilihan yang belum pernah tak kerjain dengan baik sebelumnya. Buka chapter lain. Bakti ke Orang Tua, ke Keluarga, dan tetap dengan visi besar marathon yang sama dengan sebelumnya.
Kalo kemaren sempet ada yang ngomong bahwa saya sedang ngambil jalan memutar, saya malah sedang mikir dan percaya bahwa keknya ini adalah jalan pintasnya.
Buat siapapun kalean yang facing the journey sama kek saya. Doa terbaik saya buat kalean.
Salam hangat dari zian dan mas ké!
Semoga Bojonegoro akan sangat ramah buat kami (y)
Tentang Pekerjaan
Sedihnya, masih sempat-sempatnya saya temui sebagian dari kita bertingkah bak hakim yang memberi putusan atas apa-apa yang terjadi dalam hidup ini seenak dia membuang upil di kolong meja.
Dengan heroiknya, membanggakan bahwa apa yang dia sedang kerjakan & karyakan sekarang adalah jalur suci penuh kemuliaan sedang lainnya adalah jalur hina dimana batas-batas kemanusiaan (dalam prespektif mereka) diberikan ruang yang sempit untuk bertumbuh.
Mereka lupa, dalam konteks apapun, tangan penuh peluh dan guratan kasar hasil dari kerja atas nafkah yang kita cari, oleh Rasul, seperti dalam kisahnya saat bertemu tukang batu di perjalanannya menuju Madinah, adalah termasuk tangan yang tidak akan tersentuh api neraka sedikitpun.
Semoga Ramadhan merubah kita.
Adab Sebelum Ilmu
Ilmu pengetahuan yang susah payah kita dapatkan, kadang membuat kita lupa atas batasan pada diri kita. Melihat Rocky Gerung dengan mudahnya memberikan nomenklatur dungu pada orang-orang yang dia anggap papa atas "ilmu" dan atau prespektifnya, menunjukkan bagaimana Ilmu tersebut membunuh nalar Rocky untuk mengedepankan adab sebelum apapun.
Mengapa Banyak Daerah Kesulitan Air Bersih (Part 1)
Sekian banyak ujaran penghematan air di bergbagai tempat peribadatan yang saya pernah singgahi tak lantas membuat akal saya tergerak. Logika mungkin memberikan ruang pengaminan atasnya, tapi tidak dengan nurani. Begitu seterusnya, sampai semesta membawa saya bertatap muka pada realita pelik kehidupan masyarakat "terluar" Republik. Kata "terluar" tetap akan merepresentasikan kondisi de facto daerah-daerah tersebut, hingga tercabutnya status quo ketidak terjaminnya keadilan sosial.
Juni 2016, kali pertama interaksi sebenar-benarnya saya dengan masyarakat asli Papua/Orang Asli Papua (OAP) terjadi. Tak tanggung-tanggung, Tuhan ijinkan saya pula untuk ijakkan kaki saya di tanah Papua. Menghayati kenikmatan pengalaman dan bukan rasa secara harfiaf atas papeda, sirih, dan.
"Hey, Yuda tara usah kaget, semua su biasa mandi pakai air kuning (zat besi)" Sahut Mama Faridah, Ibu-ibu pegawai negeri sipil di kantor Dinas Peternakan setempat yang dengannya saya banyak habiskan waktu berkegiatan.
Wajah negara untuk meratapi ketidak hadirannya mengurus kebutuhan dasar masyarakat pun saya temui di Bakung. Sebuah kepulauan kecil di bagian timur pulau Sumatra, bersebelahan dengan Singapura, dan bagian dari gugus kepuluan di Tanjung Pinang, Kep. Riau.
Sore itu kapal nelayan teri yang kami tumpangi sandar. Selain konflik horizontal pembakaran Kapal buntut dari perebutan lokasi melaut dengan perkampungan nelayan lain -Tanjung Kelit (Tengklit)-, Bakung juga disibukkan atas perkara ketidak tersedianya air bersih untuk keperluan harian mereka.
Air hanya akan dialirkan dari satu-satunya mata air di Bakung saat malam bersamaan dengan nyalanya generator untuk menopang kebutuhan daya listrik perkampungan nelayan tersebut.
Untuk orang-orang macam saya yang tidak bisa bang hajat dengan tidak mendengar gemericik air. Ini adalah perkara besar.
Masa Depan
Masa depan selalu begitu menyeramkan bila diimajikan. Karena memang seperti itulah sifat dasar kita. Selalu takut akan hal-hal yang tidak kita ketahui. Dan begitulah kenapa seringkali gelap membuat kita takut. Hal apapun yang datang/kita hadapi saat gelap diluar kemampuan kita untuk memperhitungkannya. Selamat malam, jangan lupa matikan lampu sebelum tidur.
Facing the quarter life crisis (1)
Everything has always their own consequence. If you chose entering the world where everyone gamble their live at, its mean that you have already old enough to think and take care of your self more deeply.
Tetek bengek persoalan memilih jauh lebih komplek dan memusngkan. Tapi begitulah dewasa itu bekerja. Regarding how to fulfill your life through working in a company till how to chose the right couple to marry with. Kurang lebih dua persoalan tersebut semoga bisa mewakili urusan kesemuanya. Walau bagaimanapun juga, keterwakilan itu tetaplah tidak terwakili. Persoalannya jauh lebih menguras peluh diluar imaji yang bisa kita bayangkan.
Mengusahakan Perempuan
Sekeras apapun, terlebih soal perasaan. Perempuan selalu punya dua opsi jawaban atas apa-apa yang kita mintakan, "iya", atau "aku ingin lihat usahamu". ㅤㅤ
Dan begitulah saya, umumnya laki-laki 'biasa' lainnya, mendapat opsi jawaban kedua adalah salah satu hal yang saya syukuri dibanding opsi jawaban lain semisal "saya ingin lihat usaha orang lain"