Kesempatan Menjadi Bagian dari Penerima Beasiswa Karya Salemba Empat

  • 0
Alhamdulillah Allah SWT telah mengijinkan saya untuk menjadi bagian dari penerima beasiswa [Karya Salemba Empat], dan ini adalah kado terbaik yang diberikan-Nya di awal semster ini. Semoga beasiswa ini
menjadi barokah untuk setiap nominal yang saya keluarkannya.

Saya juga ingin sedikit berbagi tulisan saya yang sempat dijadikan prasyarat untuk pengajuan beasiswa ini. Semoga ini bisa mewakili semua pertanyaan kenapa saya harus mengajukan beasiswa ini.

Selamat malam dan mari kita tenun asa untuk masa depan kita dan bangsa ini, karena cerita dan sejarah ini belum berakhir!
 
Ini Jalan Saya untuk Sekadar Memperjuangkan Asa untuk Bangsa Ini
Oleh: Muhamad Yuda Pradana
Banyak yang bilang bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami serangan penyakit. Ibarat manusia, Indonesia mungkin sedang mengalami sejenis penyakit kanker atau jantung yang terkenal mematikan. Semakin lama semakin mengganas. Mungkin akibat dari penyakit yang diderita sudah terlanjur kronis, bahkan hanya untuk sekedar membuka mulut menunjukkan taringnya pun bangsa ini tidak mampu. Dampaknya, bangsa ini terkesan lamban untuk bergerak, dan sulit untuk menjadi bangsa yang mandiri. Namun setiap penyakit selalu ada obat dan jalan keluarnya, bagaimanapun juga optimisme harus selalu dibangun mengingat semua potensi yang dimiliki bangsa ini belum dikelola secara optimal. Optimisme tidak harus realistis, hanya perlu distimulus setiap saat untuk membangkitkan gairah dan harapan bagi bangsa ini agar menjadi lebih baik.
Sektor pangan adalah bagian paling kompleks bangsa ini jika dilihat dari aspek masalah dan peluang dalam sumbangsihnya untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa ini. Karena bangsa ini dihadapkan dengan sekitar 240 juta penduduk yang menuntut untuk terpenuhi kebutuhan pangan tiap harinya. Pemenuhan akan kebutuhan pangan menjadi aspek yang selalu menjadi sorotan dalam setiap rencana pembangunan pemerintah. Ketahanan pangan, istilahnya seperti itu. Peternakan adalah subsektor pertanian yang memegang peran penting dalam pengembangan ketahanan pangan bagi bangsa ini. Dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani, dapat dikembangkan peternakan dengan sistem integerated farming dengan sektor pertanian.
Berangkat dari isu pangan tersebut saya ingin mencoba membawa sebuah asa untuk bangsa ini. Sebuah asa guna mencoba sedikit demi sedikit mengobati bagian-bagian tubuh bangsa ini yang mengalami luka. Dengan semangat untuk memperbaiki kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul di bidang peternakan, Fakultas Peternakan UGM adalah pilihan dan sebuah langkah awal saya untuk membangun optimisme bagi bangsa ini. Membangun bangsa dari sektor pangan. Klise memang harapan yang saya tuturkan, tapi itulah harapan. Harapan yang coba saya wujudkan lewat almamater ini dengan segenap potensi yang dimiliki bangsa ini.
Bercerita mengenai keluarga saya, sebenarnya latar belakang keluarga saya tergolong keluarga yang mampu dari segi ekonomi untuk sekadar menghidupi dan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari kami. Bahkan dengan tambahan beban tanggungan keluarga adik dari ibu yang harus ikut “numpang” akibat sudah tidak adanya tulang punggung keluarganya pun keluarga saya seakan tidak merisaukannya, mungkin karena memang bukan dianggap sebagai beban. Puncaknya sampai-sampai dengan biaya uang pangkal tertinggi untuk masuk perguruan tinggi yang harus saya bayarpun kami akhirnya tawadhu tanpa sedikitpun penolakan. Walaupun hal tersebut terjadi akibat kesalahan saya pada saat input data penghasilan orang tua saya. Kondisi seperti itulah yang membuat istilah beasiswa begitu tabu untuk kami, tabu karena istilah tersebut terkadang erat kaitannya dengan masalah ekonomi. Sehingga tidak pernah terbersit asa sedikitpun untuk sekadar apply beasiswa. Bukan dengan dasar kesombongan namun lebih mengenai menghargai hak orang lain yang lebih membutuhkan. Itu prinsip yang selalu coba keluarga kami usung.


Baterai tidak akan selalu bisa menampung daya untuk membuat senter selalu menyala. Manisnya kurma dimulut pada akhirnya juga akan hilang bersamaan dengan disekresikanya kelenjar saliva. Semua pasti ada masanya, dan itu adalah sebuah ketetapan yang orang biasa sebut sebagai sunatullah. Sebuah hukum yang berlaku universal tanpa terkecuali, termasuk kepada keluarga kami.
Berawal dari divonisnya bapak menderita liver seakan semua sekenario yang kami rancang harus direvisi total, termasuk menyangkut masalah perekonomian keluarga. Serentetan revisi yang berujung dengan sebuah pernyataan dari ibu yang meminta kesiapan saya, seandainya pada akhirnya nanti saya harus berhenti kuliah untuk menutup biaya pengobatan bapak hingga sembuh total. Mungkin lebih tepatnya bukan pernyataan akan tetapi lebih kepada ungkapan permohonan. Permohonan dari seorang ibu yang seakan langsung meluncur ke otak saya bahkan tepat sebelum otak saya berhasil mencerna kalimat ibu, air mata saya sudah jatuh tanpa permisi.
Nak, nanti kalau seandainya ibu harus jual mobil, motor, dsb. Untuk biaya berobat bapak ya tolong di ikhlaskan le yo... termasuk kalau seandainya kamu harus berhenti kuliah, ya tolong berhenti ya nak... Ibu ingin melihat bapak sehat nak, walaupun nantinya bapak hanya sekedar bisa duduk-duduk saja”
Ini kali pertama ibu memohon kepada saya. Ini kali pertama saya merasa seakan rongga dada saya sudah tidak kuat menampung apa yang ada didalamnya, sesak. Ini kali pertama saya harus dihadapkan pada dua pilihan yang sulit dengan setiap koksekuensi yang mengekor di belakang. Kuliah atau Bapak!
Latar belakang keluarga kami bukan seorang akademisi, ibu saya hanya lulusan SD dan hanya bapak yang sempat mengenyam pendidikan sarjana. Namun pada akhirnya kesemuanya menjadi seorang wiraswasta/pedagang yang gajinya ibarat arus, kadang deras kadang pelan atau bahkan tidak mengalir sama sekali. Wajar dengan latar belakang keluarga kami yang seperti itu jika di benak ibu pendidikan bukan prioritas utama, dan saya bisa menerima itu.
Pergolakan batin bagi saya adalah ketika hal itu tidak sejalan dengan apa yang ingin saya capai. Saya sangat ingin melihat bapak sembuh dan saya juga masih ingin mengenyam pendidikan tinggi ini. Serentetan pilihan pada akhirnya mengantar saya pada pilihan untuk mengajukan beasiswa. Sebuah pilihan “tabu” yang pada akhirnya harus saya ambil dengan harapan bisa menjembatani pergolakan batin saya dan tuntutan takdir terhadap perekonomian keluarga saya.
Setelah lulus dari Fakultas ini saya ingin mencoba untuk melanjutkan pendidikan saya kejenjang yang lebih tinggi dengan mengambil program S2 di salah satu perguruan tinggi di luar negeri, sebelum pada akhirnya saya ingin menjadi salah satu bagian dari para penentu kebijakan mengenai sektor peternakan di negeri ini dengan kapasitas saya sebagai birokrat. Banyak jalan menuju roma, banyak jalan jika ingin memperbaiki bangsa ini, dan jalan sebagai birokrat adalah jalan yang saya pilih untuk sekadar memperjuangkan asa bagi bangsa ini untuk menjadi bangsa yang lebih unggul. Selain itu harapan dari kecil saya adalah bisa menjadi seorang penulis lepas, menerbitkan buku, membagi gagasan, dan pola pikir/pemikiran-pemikiran saya untuk Indonesia yang lebih baik.
Posting Komentar

AddThis Smart Layers

Back to Top