Facing the quarter life crisis (1)

  • 0
Usia saya saat ini 24 tahun. Beristri. Pekerja swasta.

Everything has always their own consequence. If you chose entering the world where everyone gamble their live at, its mean that you have already old enough to think and take care of your self more deeply.

Ketika kecil, tidak banyak hal yang kita bisa bayangkan akan masa depan. Usia kemudianlah yang membuka cakrawala kita soal betapa "menyeramkannya" hidup setelah masa-masa tanpa beban menjadi anak-anak.

Masa depan selalu begitu menyeramkan bila diimajikan. Karena memang seperti itulah sifat dasar kita. Selalu takut akan hal-hal yang tidak kita ketahui. Dan begitulah kenapa seringkali gelap membuat kita takut. Hal apapun yang datang/kita hadapi saat gelap diluar kemampuan kita untuk memperhitungkannya.

When you reached 20 years old, the complexity of life is just already starting. You will face a lot of choices that need your decision in a proper way and on the right time.

Tetek bengek persoalan memilih jauh lebih komplek dan memusngkan. Tapi begitulah dewasa itu bekerja. Regarding how to fulfill your life through working in a company till how to chose the right couple to marry with. Kurang lebih dua persoalan tersebut semoga bisa mewakili urusan kesemuanya. Walau bagaimanapun juga, keterwakilan itu tetaplah tidak terwakili. Persoalannya jauh lebih menguras peluh diluar imaji yang bisa kita bayangkan.

Mengusahakan Perempuan

  • 0
Sekeras apapun, terlebih soal perasaan. Perempuan selalu punya dua opsi jawaban atas apa-apa yang kita mintakan, "iya", atau "aku ingin lihat usahamu". ㅤㅤ
Dan begitulah saya, umumnya laki-laki 'biasa' lainnya, mendapat opsi jawaban kedua adalah salah satu hal yang saya syukuri dibanding opsi jawaban lain semisal "saya ingin lihat usaha orang lain"

Soal Karya Yang Tidak Belum Menemukan Penikmatnya

  • 0
Dalam prespektif apapun, orang dengan karya akan jauh lebih unggul dibanding lainnya. Mereka hadir dalam manifestasi karya-karya mereka. Dalam bidang apapun, karya itu akan menjelma menjadi sebuah hal yang orang akan terima dan hargai dengan hormat tinggi walau tidak terjadi pada semua karya. 

Menjadi menarik ketika anggapan muncul bahwa orang dengan karya hadir dari lingkungan yang sama dengan lainnya. Bagi saya ini tidak terjadi begitu saja. Analogi waktu yang sama dalam sehari, dengan asupan jenis makanan yang sama, dan lain sebagainya bagi saya it doesn't makes sense. 

Ada bannyak hal yang bila ditarik dalam satu lintasan bahasan akan terlihat bahwa tidak ada yang muncul by nature atau begitu saja. 

Gladwel menyampaikan dalam uraian fenomenal tentang teori 10.000 jam. Sederhananya (dalam teorinya) doing the same thing in more than 10.000 hours could make us a pro.

Dan sedari pertama uraian itu saya baca, deklarasi atas keberpihakan dan pengaminan saya pun dimulai. 

Sialnya, saya tidak pernah suka menghabiskan waktu untuk berkutat dalam satu rutinitas kegiatan. Ini mungkin kesimpulan mengapa saya tidak pernah menjadi master untuk hal apapun.

Desperating Moment After Graduation!

  • 0

Tidak pernah terlalu sulit ataupun terlalu mudah. Begitu kiranya hidup. Selalu berada diirisan antar keduanya.

In fact, entah kenapa, seakan bagian sulit dalam hidup memiliki bagian irisan lebih besar dibanding sebaliknya. Hantaman muncul seakan dengan nomor antriannya masing-masing.

Empat tahun plus enam belas bulan berjibaku. Pada akhirnya, keusaian atas strata pendidikan hanya sekadar mula dari rentetan hal-hal lain yang lebih menyeramkan.

Saya mengalami ini.

Lepas dari gegap gempita hegemoni wisuda, saya dihadapkan di detik itu juga kegamangan untuk bagaimana saya harus menjalani urusan hidup kedepan. School just gives you a brief. Dan pengantar itu tidak pernah akan cukup ketika digunakan sebagai bekal.

Tujuh (7) bulan menjadi beban negara tanpa ada sumbangsih pajak yang bisa dan harus dibayarkan adalah hal pilu dan menjadi kesimpulan dari hari-hari tersebut.

Orang banyak bilang bahwa, grab your dream! But sometimes, we doesn’t realize that we also have a reality to be faced. And the name of those reality is step.

Iya, selalu ada proses untuk kita bisa sampai kepada angan-angan indah yang kita impikan. Dan proses ini tidak hanya soal waktu, tapi juga berapa banyak pos pembelajaran yang harus kita lalui. Saya belajar bahwa menceburkan diri dalam bursa para pencari kerja adalah bukan perkara mudah dan remeh temeh. Seberapapun hebat track record yang kamu pernah bangun, kamu harus ingat bahwa you just a mere person compared to the ocean of people.

Akan selalu ada langit diatas kita, dan oleh karenanya pastikan bahwa kedua tapak kita masih selalu menapak diatas tanah dalam konteks apapun. Terlebih saat memulai sesuatu. 

Perjuangan saya untuk melampirkan berkas portofolio hanya berakhir penantian. Menjadi lebih menyesakkan adalah kondisi ini berlarut hingga dua bulan saya menikah. You can imagine how it feels. Having a people that you need to take care at all, but bahkan untuk membayar hal paling remeh semisal antrian kamar mandi, kamu masih juga mengekor pada orang lain.

What things makes you stand or even proud?

Being a Workforce

  • 0
Counting to how many time I have failed in my life is just a mere things. Accepting those fail is always harder and beyond my expectation.

Getting rejected from the company that you always looking for. And the only truth that you can convey are the deepest condolences happen in your hearth. Yet, we also understand, Crying is not the best way anymore, keep our self silent.

As a workforce.

Instead of being an independent person like I was imagine before. At this phase, I am running from the bad destiny growing my wife without any money. Choosing the only logical way to overcome this situation as a workforce. Giving all my idea and energy all day long to the company, and spend the rest of my time with rupiah that I can take it directly from my card. In many case, inhabitant always suppose this condition in term of "unideal condition" -you can debate this term-. Yet, the pivotal thing is you need to remember that money always have their own position as a "god" in all aspect in the human-life.

Orang-Orang Melayu Pertama: Kesederhanaan Masyarakat Pulau Bakung, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau (Part-2)

  • 0
"Layaknya banda neira, harus tidak berencana" - Rara Vokalis Banda Neira 
Dan saya bahkan sempat menempatkan hidup saya dalam koridor ke tidak berencanaan itu. Membiarkan semuanya mengalir sesuai rutinitas yang hadir didepan wajah.

Mekanisme seperti itu pulalah yang membawa saya pada banyak hal yang tak terduga. Sungguh baiknya Allah untuk segala sesuatu yang saya terima hingga titik ini.

Bakung misalnya, tidak pernah ada dalam daftar tujuan tempat yang saya singgahi. Terletak 3 jam perjalanan dengan kapal feri dari pelabuhan Batam, bakung tak se-tersohor pulau-pulau di sebelahnya macam bintan dan anambas.

Bakung beserta masyarakat yang hidup didalamnya hidup dalam keluguan tanpa banyak palsu. Berisi orang-orang melayu taat beragama dengan rasa optimisme tinggi untuk kelak bisa berangkat haji ke tanah suci. Seperti halnya Pak Cik Mi bilang "Mudah-mudahan sampai". Begitu mereka mengistilahkan tekad dan optimisme luar biasa untuk kelak kesempatan haji itu akan hadir pada mereka.

Pak Cik Mi pulalah yang pernah sempat membuat Saya tertegun lewat pertanyaan sederhana tentang bagaimana hidup dengan lalu lintas padat kendaraan.

"Tak bisingkah mobil?" begitu sahut beliau.

Sepanjang hari asal ada solar untuk melaut, masyarakat pulau bakung akan menghabiskan waktu dilaut mencari teri atau sotong. Jika dalam satu jam tak dapat, mereka akan pulang untuk sore harinya berangkat kembali. Teri tersebut bak padi bagi mereka. 20 kilo sekali berangkat akan membawa berkah lebih dari satu juta rupiah per awak kapal. Disana tak banyak yang memiliki kapal sendiri. Menjadi awak kapal adalah pilihan terbaik untuk menyambung hidup bagi sebagian besar dari mereka. Jika hari itu mereka tak dapat tangkapan sama sekali, kesabaran tinggi menjadi hal terbaik yang mereka bisa pegang teguh. Kita boleh hancur, tapi tidak dengan harapan kita. Karena itu yang membuat kita tetap hidup. Begitu kira apa yang mereka pahami dari hidup.

***

Prambanan Jazz Festival 2017: Review

  • 0
Tanpa terkecuali, tiket Prambanan Jazz Festival 2017 akhirnya masuk dalam daftar simpan saya. Tiket itu hadir dengan manisnya beberapa hari sebelum pertunjukkan hari ketiga.

This is one of my best moment di tahun ini. Menyaksikan pertunjukan konser epik berlatar belakang candi prambanan nan syahdu. Terlebih, ketika senja hadir dibalik panggung. Memotong langit biru, dengan memberi kesan jingga orange tepat diatas candi. Kesemuanya menjadi latar pertunjukan ini.

Menjadi lebih menarik karena kemudian di waktu bersamaan, Stars and Rabbit dengan imaginary popnya dan Payung Teduh dengan fusi folk and Jazznya menjadi pengisi suara di momen tersebut. What an amazing moment is it?.

Karena setiap momen baik dan indah bisa terus kita ciptakan. Memilih hadir untuk pertunjukan ditahun-tahun mendatang saya kira adalah pilihan tepat sebagai salah satu opsi menciptakan momen baik tiap fase hidup kita.

Tapi jauh dibalik itu. Ada kritik yang perlu kita angkat bersama. Sebagai perbaikan dan catatan penyelenggaraan-penyelenggaraan kedepan. Mungkin uraian saya akan sangat parsial dengan hanya hadirnya saya di hari ketiga pertunjukan. Akan tetapi dari yang sedikit ini semoga menjadi menjadi alasan untuk  teman-teman memilih hadir atau tidak di pertunjukan tahun-tahun mendatang.

Pertama, dalam framing pemilihan nama pertunjukan, saya termasuk dalam poros orang yang beranggapan bahwa ini bukanlah sepenuhnya konser dengan genre Jazz. Kita akan temukan keambivalenan antara nama dan kenyataan lapangan. Approaching ke arah Jazz yang dilakukan oleh penampil hampir tidak ada. Mereka akan melakukan perform dengan khas mereka tersendiri seakan mengabaikan embel nama Jazz dalam pertunjukan ini.

Kedua, disiplin waktu penyelenggaraan jauh dari kata baik. Kita akan temukan dilapangan rundown kegiatan meleset jauh dari yang direncanakan sepertihalnya publikasi awal. Semula penampil pertama harus play on jam 13.00 WIB, kita baru akan dapat menikmatinya pukul 16.00 WIB. Dengan alasan apapun keterlambatan dari rencana akan memberikan efek berganda. Entah itu pemotongan jumlah lagu penampilan, atau yang lebih parah adalah bentrok jadwal tampil di dua panggung berbeda.

Prambanan Jazz Festival 2017 seperti halnya ditahun sebelumnya selalu menghadirkan dua panggung berbeda dengan waktu dan line up artis yang berbeda. Panggung pertama adalah panggung festival dan yang kedua adalah special performance. Dari yang semestinya special performance akan tampil setelah seluruh rangkaian festival selesai, di lapangan kita akan menjumpai dua panggung ini akan bermain di waktu yang sama. Ini kerugian bagi teman-teman yang memilih untuk membeli tiket double di festival dan special performance. Dia tidak bisa menikmati pertunjukan di festival secara penuh sesuai dengan besaran nominal penuh yang dia bayarkan untuk membeli tiket festival.

Tapi sekali lagi, apresiasi yang setinggi tingginya tetap harus kita berikan kepada pihak penyelenggara. Momen indah nan syahdu ini tidak mungkin akan hadir kepada saya tanpa effort keras mereka. Saya memilih hadir dan menikmati segala hal luat biasa yang dihadirkan oleh penyelenggara berikut dengan paket kekurangannya. Saya menikmati itu dan menyaksikan hal serupa seakan jadi candu tersendiri.

NB: Nanti saya susulkan file gambar moment-moment disepanjang pertunjukan. Sayangnya file masih tidak ditangan saya.

Menyimpan Kenang Lewat Kertas Tiket

  • 0
Dan saya memiliki kecenderungan untuk ingin menyimpan segala sesuatunya dengan baik. Apapun itu. Bahkan hingga pada saat ini, saya masih rajin menyimpan tiket-tiket perjalanan sejak awal ambisi tentang melakukan perjalanan 50.000 mill muncul. 

Dalam definisi yang cukup rumit, tiket yang saya maksud mewakili segala jenis tiket baik tiket keberangkatan kereta api, pesawat, kwitansi pembayaran wahana, tiket masuk konser musik, atau sekadar tiket retribusi parkir tempat wisata, dan masih banyak lain. 

Rumit memang. Tapi kemudian, dari niat semula hanya menyimpan tiket, berkembang menjadi hal ambisisus lain untuk menyimpan setiap bukti fisik dari momen-momen luar biasa bagi saya. Tanpa terkecuali kartu ucapan sederhana dari teman-teman saya.

Awalnya saya hanya simpan kesemuanya dalam wadah kotak. Belakangan saya menyadari, album foto adalah tempat terbaik untuk menyimpan kertas-kertas tersebut. 

Dan beberes malam ini, membawa saya membuka album itu kembali. Hingga kemudian di titik ini saya sangat bersyukur dikelilingi banyak teman yang luar biasa. Ini mungkin rupa keberuntungan yang disebut Gladwell dalam Outliersnya.

Orang-Orang Melayu Pertama: Perjalanan Seminggu di Pulau Bakung, Kepulauan Riau (Part-1)

  • 0
Rute penerbangan dari Yogyakarta menuju Batam secara langsung hanya dilayani satu maskapai yaitu Lion Air. Selebihnya memaksa kita untuk mengambil rute transit. Siang itu, selang dua hari setelah telpon masuk dari Ibu Nafi'atul Umami, saya benar-benar berangkat menuju Batam. Batam bukanlah tujuan utama dalam perjalanan kali ini. Saya masih harus menempuh perjalanan laut menggunakan Kapal Feri menuju Kabupaten Lingga. Hanya itu yang ada dalam framing berfikir saya sampai kemudian saya menyadari perjalanan saya tak sesederhana yang saya bayangkan.

Sesaat setelah pesawat saya landing di bandara Hang Nadim Batam, saya belum merasakan atmosfer yang berbeda dan cukup menganggumkan. Tempat kedatangan Hang Nadim tak ubahnya seperti Adi Sucipto yang ketika kita masuk akan merasakan penat dan sesak dengan keterbatasan jarak pandang akibat penuhnya ruangan yang tidak mampu dengan nyaman menampung kapasitas orang.

Koper dan semua perlengkapan tim sudah lengkap di tangan kami. Selanjutnya, setelah keluar, saya mendapati bahwa ini bukan lingkungan yang biasa saya kenal. Logat melayu sangat kental terdengar dari orang-orang yang menunggu rekannya di pintu keluar. Kedua. Hang Nadim ternyata tidak sesederhana bayangan saya. Dan detik-detik setelahnya saya sudah dapati diri saya mencoba dengan keras menutupi efek dari terpacu derasnya serotonin, endorfin, dopamin, dan oksitosin dalam diri saya.

Bandara Internasional Hang Nadim Batam





Catatan Parsial Tips Lolos Beasiswa (Part-1: Kelengkapan Awal)

  • 0
Sedari awal niatan ini muncul saya masih gamang nilai kebermanfaatan catatan ini. Terlebih catatan ini bukan dibangun atas dasar proses metode riset yang sangat rigid secara bertahun-tahun. Ini hanya ulasan parsial Saya atas pengalaman selama mengikuti proses seleksi penerimaan beasiswa beberapa lembaga donor.

Hampir setiap lembaga donor tidak selalu memiliki kesamaan dalam hal metode penerimaan. Perbedaan mendasar ini biasa terletak dari jenis tes apa saja yang harus dilewati.

Saya menyadari bahwa tiap lembaga donor akan mensyaratkan metode sesuai kebutuhan masing-masing dari mereka. Kesadaran tersebut membawa saya untuk hanya mengulas dalam catatan ini beberapa metode umum yang seringkali ada dalam frekuensi cukup tinggi pada proses penerimaan seperti halnya Wawancara, Focus Grup Discussion (FGD), dan menulis esai administratif awal.

Kelengkapan Berkas Awal
Tapi jauh sebelum itu, sependek yang saya bisa ketahui, menyiapkan berkas administratif awal adalah hal mendasar untuk kita bisa lebih jauh mengikuti serangkaian proses seleksi penerimaan. Artinya, requirement yang disaratkan oleh lembaga donor harus mampu kita penuhi. Berkas-berkas administraif semisal isian formulir, fotocopy identitas, hingga surat rekomendasi harus mampu kita lengkapi untuk kemudian kita kumpul sebagai syarat awal pendaftaran. Memastikan kelengkapan berkas adalah hal penting dalam proses ini. Ketidaklengkapan berkas akan membuat penyeleksi akan menggugurkan secara langsung tanpa melihat berkas kita secara utuh. Pertimbangan ini biasa diambil mengingat jumlah pendaftar yang biasanya mencapai ribuan.

Dan membuang berkas yang tidak lengkap sama saja dengan membuang pendaftar-pendaftar yang tidak memiliki kesungguhan niat untuk melakukan proses seleksi.

AddThis Smart Layers

Back to Top