Soal Karya Yang Tidak Belum Menemukan Penikmatnya

  • 0
Dalam prespektif apapun, orang dengan karya akan jauh lebih unggul dibanding lainnya. Mereka hadir dalam manifestasi karya-karya mereka. Dalam bidang apapun, karya itu akan menjelma menjadi sebuah hal yang orang akan terima dan hargai dengan hormat tinggi walau tidak terjadi pada semua karya. 

Menjadi menarik ketika anggapan muncul bahwa orang dengan karya hadir dari lingkungan yang sama dengan lainnya. Bagi saya ini tidak terjadi begitu saja. Analogi waktu yang sama dalam sehari, dengan asupan jenis makanan yang sama, dan lain sebagainya bagi saya it doesn't makes sense. 

Ada bannyak hal yang bila ditarik dalam satu lintasan bahasan akan terlihat bahwa tidak ada yang muncul by nature atau begitu saja. 

Gladwel menyampaikan dalam uraian fenomenal tentang teori 10.000 jam. Sederhananya (dalam teorinya) doing the same thing in more than 10.000 hours could make us a pro.

Dan sedari pertama uraian itu saya baca, deklarasi atas keberpihakan dan pengaminan saya pun dimulai. 

Sialnya, saya tidak pernah suka menghabiskan waktu untuk berkutat dalam satu rutinitas kegiatan. Ini mungkin kesimpulan mengapa saya tidak pernah menjadi master untuk hal apapun.

Pemain sepak bola, penulis, entrepreneur dan banyak macam profesi lain pernah berada dalam daftar list cita saya. But i do nothing. Hanya kurang dari satu tahun ikut sebuah sekolah sepakbola, menulis hanya ketika punya ketertarikan, dan atau tidak pernah sama sekali mencoba menjajakan dagangan sesepele gorengan atau tahu isi.

Yeah, that's me. Dan saya sangat tidak nyaman dengan hal tersebut. Kalau memang ini adalah fase yang konon kita gemborkan sebagai sebuah pencarian, maka dalam ruang waktu yang sama, banyak orang-orang yang lebih dahulu mendapatkan insight tentang "what is your life for"

It might be the reason why didn't born any creation through my hands dalam kurun waktu yang sangat lama sekali. Karena bahkan untuk menentukan satu hal fokusan hidup saya masih gamang dan berubah seiring waktu.

Sampai pada titik kemudian saya mulai mencoba menulis dalam spektrum apapun. Dan tulisan paling berbobot dari yang pernah saya susun adalah bahasan sosial politik peternakan melalui buku ini. Lebih dari satu tahun upaya penyelesaian buku ini. Dibantu dengan teman-teman tim. Bab demi bab saya rampungkan hingga pada akhirnya keberanian untuk memasalisasi karya melalui penjualan akhirnya saya dan tim lakukan.

Satu dua bulan berselang. Angka penjualan tidak pernah lebih dari 50 copy. Dan pada akhirnya karya ini berakhir sebagai hal gratis untuk bisa dinikmati semua orang. Kami tidak masalah akan hal tersebut, tapi point dari uraian saya soal cerita ini adalah:

Lepas dari bahasan itu semua, karya tetap butuh labuhan. Tidak cukup hanya muncul. Karena tanpa labuhan, semuanya akan tenggelam.

Dan saya merenungi itu layaknya saya merenungi setiap tulisan-tulisan saya yang belum menemukan pembacanya sampai saat ini. Dari 2009 dan tulisan-tulisan ini berakhir sebagian besar hanya untuk saya pribadi. Sebagai bahan renungan atau tempat meluapkan yang sekiranya perlu diluapkan.

Perjalanan soal membuat dan membesarkan karya masih menjadi hal yang begitu membuat saya penasaran. Perkara membuat, sesepele apapun hasil jerih payah tetap akan bisa dinamai dan dihargai sebagai karya. Tapi perkara membesarkan, ini selalu menjadi pokok bahasan lain.

Upaya membesarkan ini perlu rentetan strategi yang harus disusun apik, dieksekusi konsisten, dan terus memanen evaluasi sembari melakukan perbaikan diperjalanannya.

Ini yang coba saya lakukan untuk project karya baru saya dan istri saya beserta teman-teman lain:


Terkait dia akan menemukan labuhannya atau tidak? Saya rasa, itu akan jadi pertaruhan saya pribadi untuk kesekian kalinya.
Posting Komentar

AddThis Smart Layers

Back to Top