Epilog Laporan Pertanggung Jawaban Ketua BEM Peternakan UGM

  • 0
Saya bukan mahasiswa yang hidup pada saat Tan Malaka melakukan perlawanan bersama kaum buruh di era 1921an. Bukan pula hidup pada saat Hatta dan Sukarno berkonflik. Sehingga saya bisa menikmati pertentangan gagasan keduanya lewat surat kabar Suara Rakyat kala itu.

Tidak pula saya merasakan bagaimana ruh pergerakan mahasiswa tahun 60an. Kala Soe Hok Gie dan koleganya menentang kediktatoran berturut-turut dari Soekarno hingga Soeharto. Militer kala itu tak seramah sekarang. Pun ketika Reformasi ’98. Saya masih sibuk belajar mengenal alfabet. Beberapa buku menceritakan kisah heroik itu kepada saya. Bak dongeng, cerita itu juga diturunkan para senior ke kami. Menjadi agenda wajib di setiap latihan dasar. Apapun itu macam dan oreientasinya, Hegemoni itu akan selalu di ceritakan.

Terlepas impact baik apa yang timbul. Saya ingin menegasikan semuanya. Ini kenapa saya selalu takut akan sebuah informasi tunggal. Semua cerita itu menutup pandangan yang jauh luas dari yang kita peri. ‘Dongeng’ tersebut mempersempit semuanya. Pemahaman kita seragam. “Bahwa kita harus melakukan hal yang mereka lakukan”. Tolak ukurnya sederhana dan mungkin terlalu disederhanakan.

***

Cukupkanlah berhegemoni dengan masa lalu. Gerakan Mahasiswa sudah waktunya untuk bertransformasi. Atau pengeras suaramu hanya akan menjadi pelengkap acara seremonial. Mari ciptakan zaman dan cerita kita sendiri.

Naskah lengkap laporan pertanggungjawaban bisa diakses di laman ini;
https://drive.google.com/file/d/0B0IwsmK7R5iaSlhaTkdNdmE2amM/view
Posting Komentar

AddThis Smart Layers

Back to Top