Teruntuk adik-adik saya di MAN 3 Malang.

  • 0
Terimakasih kepada Ibu Wahyuni Ekowati (Ibu Yuyun) atas permintaannya untuk saya menuliskan ini semua. Semoga bermanfaat.

Tidak ada hal yang cukup istimewa dari diri saya pribadi semasa Aliyah.

Bahkan untuk bisa lulus di Ujian Nasional, itu sudah hal yang sangat luar biasa bagi saya saat itu. Bukan karena apa, hanya karena kapasitas otak saya yang tak seberapa.

Saya dahulu ketua osis, tapi mungkin, kalau bukan karena kedua orang kompetitor saya adalah perempuan, dan saya satu satunya yang dianggap "laki", amanah itu tidak akan pernah hadir pada saya.

***
Hidup saya penuh dengan paksaan paska saya lulus Aliyah. Bukan dari orang lain. Tapi dari diri saya sendiri.

Saya paksa diri saya untuk apapun, hingga kemudian saya 'terpaksa' untuk terbang ke Filipina, menjadi 1 dari 9 delegasi dari Indonesia dalam sebuah forum kepemudaan, atau mungkin 'terpaksa' untuk kemudian menulis dan menerbitkan sebuah buku tentang analisis dan pandangan saya terkait sektor Peternakan ditinjau dari prespektif sosial-politik di akhir tahun lalu.

Tapi jauh sebelum itu, sekali lagi hidup saya penuh dengan paksaan.

Nominal uang pangkal yang harus saya bayarkan untuk masuk pendidikan tinggi adalah angka tertinggi di Fakultas saya. Atas dasar malu pada orang tua, saya pun memaksakan diri saya untuk memenuhi kebutuhan hidup saya. Pada akhirnya saya hidup dengan cara lompat dari satu lembaga beasiswa ke lembaga beasiswa lain. Itu saya lakukan mulai semester 2 saya kuliah hingga saat ini.

Saya juga mulai memaksa diri saya untuk berkompetisi, lomba apapun saya selalu coba ikuti tanpa terkecuali. Singgah ke bengkulu, riau, bandung, dan banyak kota kota lain untuk sekadar "melempar dadu". Gagal pun berkali-kali. Tapi saya bersyukur Allah juga memberi nikmat dengan raihan juara-juara atas kompetisi yang saya usahakan.

Saya selalu memaksa diri saya untuk tidak membenturkan kebaikan. Kebaikan dengan definisi apapun. Termasuk dalam definisi akademik dan organisasi.

Saya paksa diri saya untuk mampu ballance di keduanya, dan Allah pun akhirnya menuntun diri saya untuk mengemban amanah sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa dan Mahasiswa Berprestasi di tingkat fakultas. Di tahun yang sama.

***

Tapi dari sekian hal tersebut, saya masih ingat betul bahwa hal yang pertama kali saya paksakan adalah "Jujur". Dan itu adalah titik tolak bagi saya.

Saya baru memulai untuk jujur dalam ujian ketika kelas 11 semester genap. Sebelumnya? Saya selalu menggantungkan nilai saya dari satu teman ke teman lainnya.

Dan saya pikir saya terlambat untuk memaksa diri saya untuk jujur.

Dampaknya? Saya pernah hingga 4-5 kali menjalani ujian remedial mata pelajaran Matematika di kelas Ibu Wulaida. Belajar dengan berdarah-darah untuk semua mata pelajaran yang di-UNkan. Karena memang saya harus memulai semua dari 0.

Tapi saya bersyukur, saat ini saya menyadari kesemuanya itu bukan hal yang sia sia.

Banyak hal yang saya pikir terlambat untuk saya lakukan. Dan saya berharap keterlambatan ini tidak terjadi pada kalian.

****

Kalau berkenan, ijinkan saya untuk berpesan kepada setiap dari kalian. Sebuah pesan dari kakak kepada adik-adiknya, atau dari teman, untuk teman satu almamaternya.

Karena perjalanan kalian masihlah panjang, oleh karenanya...

Pertama, jangan lupa untuk bangun rekam jejak yang baik. Bantu orang-orang yang kelak akan mengenal kalian lewat apa-apa yang kalian telah kerjakan sebelumnya.


Karena kelas tidak akan pernah memberi semua yang kalian butuhkan. Maka juga paksakan diri kalian untuk berkembang diluar kelas.

Banyak kegiatan yang kalian bisa ambil. Banyak orang yang kalian bisa ajak interaksi. Dan saya pikir, itu pulalah yang membentuk saya hingga saat ini.

Kalian bisa memilih untuk ikut berpramuka, menjadi pengurus osis dan paskibra, taekwondo, menjadi bagian dari klub usaha kesehatan sekolah, atau apapun itu yang jelas jangan pernah biarkan diri kalian untuk diam.

Paksa diri kalian untuk juga berkegiatan diluar kelas. Madrasah telah memfasilitasi itu semua. Tinggal bagaimana kalian memanfaatkannya.

Kedua, saat seumuran kalian saya tidak pernah berfikir lebih tentang hidup saya kedepan.

Saya berharap itu tidak terjadi pada kalian saat ini. Mulailah berfikir visi kalian kedepan, orang populer menyebutnya sebagai mimpi. Berfikirlah tentang mimpi kalian satu, dua, lima, dua pulih, empat puluh tahun kedepan dan seterusnya. Mau jadi apa kalian ditahun-tahun tersebut?

Hal tersebut sedikit banyak telah membantu saya selama beberapa tahun ini. Menuntun. Memberi arahan.
Imbangi mimpi itu dengan usaha kalian. Karena, bermimpi saja tidak cukup. Saya meyakini Allah lebih menghargai usaha, bukan mimpi. Maka, usahakan segala sesuatunya se-mastatho'tum yang kalian mampu.

Ketiga, isi otak kalian dengan bacaan. Kelak kalian akan dihadapkan pada saat dimana kalian harus berbagi gagasan dan ide kalian dengan yang lain. Semua orang besar yang saya pelajari melakukan itu tanpa terkecuali. Dan mari kita berfikir bahwa kesempatan itu akan hadir pula pada setiap dari kita. Tidak pernah ada gelas kosong yang mampu mengisi gelas lain. Otak kita pun bekerja dengan mekanisme seperti itu. Otak kita perlu diisi.
Selebihnya, untuk apapun yang kalian usahakan, percayalah bahwa Allah akan memudahkan segala sesuatunya.

***

Terakhir, saya juga mungkin sedang mengusahakan yang kalian juga sedang usahakan. Kita sama-sama tidak pernah tau dan dapat menentukan jalan takdir kita kedepan. Tapi kita selalu mendapatkan kesempatan untuk mengusahakan terbaik akan takdir kita. Mari ambil kesempatan itu.

Mari mengusahakan bersama, terlepas dalam ruang dan waktu yang berbeda. Semoga kita berjumpa kembali dalam kondisi yang jauh lebih baik.
_______
Muhamad Yuda Pradana
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada - Alumni Madrasah Aliyah Negeri 3 Malang
Posting Komentar

AddThis Smart Layers

Back to Top