Menyikapi masalah.

  • 0
Ketika kita sama-sama sepakat bahwa masalah adalah sebuah keniscayaan. Saya pikir, setiap masalah akan bermetafora sesuai zamannya.
Namun kadang kali permasalahan paling fundamen tidak terletak pada permasalahan itu sendiri. Tapi pada gaung yang timbul. Kenapa demikian? Karena gaung ini terkadang akan susah untuk di kendalikan. Dia akan bergerak tak beraturan. Memiliki ritme tersendiri. Yang sumber bunyipun tak akan menyangka pada respon yang akan timbul lewat gaung tersebut.
Maka seperti itu pulalah selalu terdapat pilihan. Membiarkan masalah ini menggaung ke orang “diluar” yang tidak paham. Atau keep di orang yang berada dalam lingkar masalah tersebut.
Meskipun kita akan mendapat probabilitas yang sama untuk dampak baik-buruknya. Tapi bagi saya, hidup tidak sebercanda itu. Bukan sebatas kocokan dadu yang kita bisa ulang semau kita. Atau undian lotere yang pun ketika kita kalah, kita bisa mulai dari awal lagi untuk bertaruh. Mencoba mengambil kesempatan terbaik yang “belum” kita dapat.
Saya pribadi selalu akan memilih untuk keep hal ini pada pusaran orang-orang yang berkepentingan dalam masalah ini.

Saya selalu menganalogikannya dengan bagaimana orang tua kita mampu meredam gaung ini agar tidak kemana-mana. Sehingga, kita pun sebagai anak tidak banyak tahu. Apalagi orang diluar keluarga kita.
Logika saya sederhana. Jangan biarkan orang yang tidak tahu pokok permasalahan ikut berasumsi. Karena percayalah, dampak yang akan timbul akan lebih sulit di atasi daripada masalah itu sendiri.
Pukulan yang cukup untuk memberi arti dalam perjalanan kepengurusan ini. Karena kemudian, di masa awal kepengurusan kecolongan terjadi. Dan pada akhirnya kami pun harus berjibaku untuk meredam gaung. Sembari kemudian melakukan transfer pemahaman terkait hal ini.




Posting Komentar

AddThis Smart Layers

Back to Top