Catatan 1 - Bengkulu: Belajar Mengenal Negeri Ini Seutuhnya

  • 0

                Hari ini selang empat hari kepergian saya dari Kota Bengkulu. Kota yang menyisakan kenangan karena untuk kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Sumatra. Tanah dimana orang melayu tumbuh sesak memadati setiap bagiannya atau sekadar berjumpa dengan orang-orang  keturunan tionghoa dengan perawakan  tubuh pendek, mata sipit, dan kulit agak kekuningan. Menyeduh kopi, bercengkrama, dan bermain dengan permainan sejenis gaplek seperti kebanyakan orang jawa mainkan di warung kopi.
                Bengkulu adalah kota dimana Sukarno pernah diasingkan dan berjumpa untuk pertama kali dengan dengan ibu Fatmawati. Sosok gadis yang menjadi bagian hidup dari pemimpin pertama Republik ini. Mungkin ide Indonesia saat ini tidak lepas dari ibu Fatmawati. Nama itu kini diabadikan sebagai sebuah bandara oleh orang sana dan menjadi bagian dari wajah kota ini, bahkan bagian kecil dari tanah sumatra yang saya lihat pertama kali.
                 Jum’at itu untuk kali pertama saya dapat melihat hamparan hijau bumi republik ini dari ketinggian. Melihat horizon sejauh mata sanggup memandang. Menyeduh setiap bagian dari Bumi Pertiwi ibarat sebuah pelajaran geografi yang sesaat itu juga disuguhkan dengan visualisasi nyata nan syahdu. Ingin rasa melihat republik ini selalu dari ketinggian. Mengabaikan hiruk pikuk masalah negara ini yang selalu disuguhkan dilayar kaca setiap saatnya. Mengesampingkan masalah-masalah etnis dan agama yang selalu dimunculkan di permukaan meskipun pembahasan ini sudah final sejak Pancasila menjadi dasar Negara ini.
                Saya masih teringat ketika pada sabtu saya berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya yang entah kenapa saya baru menyadari bahwa seluruh orang diruangan itu menyanyikan lagu dengan nada, lirik, dan ritme yang sama. Bahkan saya baru bisa merasakan bahwa akhirnya saya berada di Indonesia. Indonesia yang bukan hanya sebatas Jakarta-Banyuwangi, atau Sunda-Jawa-Madura, namun Indonesia seutuhya. Hari itu saya menyadari bahwa Indonesia ini bukan sekadar wadah, simbol, ataupun formalitas sebuah negara. Namun Indonesia adalah sebuah kata yang setiap orang di Republik ini berhak memaknai atau mendefinisikan Indonesianya dengan koridor ke-Bhinekaan.
                Minggu lalu Bengkulu telah memberikan banyak hal kepada saya. Saya selalu asyik ketika berbicara mengenai Bangsa, Republik, atau Negara bak sebuah kosa kata yang mudah diucap. Hal yang berbeda adalah ketika apa yang saya ucap hanya berdasar apa yang saya baca lewat buku-buku tebal yang berjajar menghiasi rak buku di kamar saya. Saya ingin belajar mengenai Negeri ini seutuhnya, bukan hanya lewat alunan lembut deretan tulisan. Harap yang selalu terus membumbung di ubun-ubun adalah ketika saya bisa mengenal Negeri ini seutuhnya.
                Ini bukan cerita mengenai apa yang saya lakukan dan dapatkan disana. Ini adalah cerita dimana saya mulai perlahan-lahan belajar memandang Republik ini secara komperhensif, secara utuh. Bukan semata-mata hanya melihat secara parsial, melakukan sampling dan menjustifikasi diri saya bahwa saya sudah mengenal Negeri ini.

Posting Komentar

AddThis Smart Layers

Back to Top