Menilik Harapan yang Mungkin Masih Bisa di Perjuangkan - Pendidikan!

  • 0
Ini adalah cerita mengenai pendidikan. Cerita mengenai sekelumit semangat dibalik segala keterbatasan fasilitas dan hal lain yang seakan menggradasi pendidikan di daerah saya. Andrea Hirata boleh saja bercerita mengenai sosok lintang dan semua teman laskar pelanginya yang mengajarkan mengenai makna semangat yang sebenarnya dalam menuntut ilmu di daerah pedalaman Belitong. Anies Baswedan bolehlah bercerita mengenai gerakan Indonesia mengajarnya yang bertujuan untuk mendorong usaha dalam mencerdaskan bangsa di Indonesia. Dan tentu boleh saja saya bercerita mengenai semangat melanjutkan pendidikan tinggi yang dimiliki teman-teman dari daerah saya yang saat ini mungkin sedang dilanda kerisauan hati untuk melanjutkan pendidikannya.

Ini adalah misi kami, misi rekan-rekan Ikatan Mahasiswa Bojonegoro – Yogyakarta yang berusaha “membangkitkan” motivasi teman-teman murid kelas 12 disekolah-sekolah menengah atas di Bojonegoro untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Ya, cukup melanjutkan pendidikan tinggi. Tanpa tendensi dan penekanan untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi manapun, lebih-lebih ke PTN Favorit. Harapan yang sangat sederhana melihat segala hal kami rasa masih bisa diperjuangkan. Masih.


Mungkin menemukan teman-teman yang memiliki semangat belajar untuk melanjutkan pendidikan tinggi di kota-kota besar bak mencari belalang merah muda dalam hijaunya rerumputan yang kerap beberapa kali ditemukan di Osaka, Jepang. Mudah. Namun, lain daerah juga lain ceritanya.
Menemukan 5 dari 25 siswa kelas didaerah garis “terdepan” kota Bojonegoro yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi adalah sebuah hal yang patut disyukuri. Ya walaupun itu mungkin baru sekadar semangat.

“Ingin melanjutkan Akademi Militer di Jakarta mas, heheh...” Begitulah kira-kira jawaban seorang gadis tambun dengan kulit agak gelap murid kelas 12 salah satu sekolah setingkat SMA di Kecamatan Padangan, sebuah Kecamatan di Barat kota Bojonegoro, ketika saya mencoba menilik semangatnya untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Saya lupa tepatnya nama gadis itu siapa. Mungkin bayang-bayang mengenai semangat gadis tersebut seakan membuat saya terlena sehingga untuk sekedar mengingat namanya pun saya tidak terbersit keinginan lebih sedikitpun. Saya tertegun memikirkan segala tetek mbengek prosedur dan segala hal yang akan dilalui gadis tersebut untuk masuk sebuah akademi militer. Ya dia seorang gadis, dan dia ingin melanjutkan ke Akademi Militer di Jakarta. Ya, itu cita-cita. Cita-cita yang kemudian membuat saya tertegun.

Saya takut untuk mengeluarkan barang sepatah katapun saat itu. Saya takut nantinya kata yang keluar dari mulut saya adalah kata yang akan menggradasi semangat gadis itu. Ya saya takut dengan segala pemikiran pesimis mempertimbangkan segala hal yang ada dengan hasil yang akan diperoleh. Ya untuk kesekian kalinya saya hanya diam.

Itu semangat, semangat yang semoga menuai “keberuntungan” dengan segala harapan dan doa yang saya haturkan untuk gadis itu. Saya orang yang tidak percaya akan keberuntungan. Sebuah hal yang oleh orang bijak keberuntungan hanya akan terjadi ketika terbentuk sebuah titik perpotongan antara dua kurva, kurva usaha dan kurva doa. Namun saya adalah orang yang memiliki harapan, harapan agar apa yang gadis itu penjuangkan semoga diberikan kemudahan dan semoga diberikan yang terbaik. Terbaik dari-Nya untuk masa depan gadis itu.

Masih beberapa hari lagi untuk saya dan rekan-rekan melanjutkan hari-hari memasuki kelas-kelas di sekolah-sekolah menengah atas di kota kami. Semoga harapan kami tidak sirna. Sebuah harapan yang sangat sederhana melihat segala hal kami rasa masih bisa diperjuangkan. Ini perjuangan kami untuk sekedar menggerakkan semangat pendidikan di kota kami, Bojonegoro.

AddThis Smart Layers

Back to Top